JEPARA — Peran pelajar sebagai aktor perubahan sosial kembali ditegaskan. Melalui kegiatan Duta OSIS 5 Anti Kabupaten Jepara Tahun 2026.
Kegiatan yang diinisiasi Forum Organisasi Siswa Intra Sekolah (FOSIS) Kabupaten Jepara ini menjadi ruang penguatan karakter. Serta edukator sebaya anti kekerasan.
Sekaligus kesadaran kritis pelajar di tengah tantangan sosial dan digital yang kian kompleks.
Kegiatan diselenggarakan di Aula SMKN 1 Jepara pada Sabtu (24/1). Menghadirkan Jeanette S. Listiyani dan Ratih Tahiyatur sebagai pembicara.
Jeanette menyampaikan materi anti intoleransi, anti bullying, anti pernikahan dini, anti narkoba, anti korupsi dan judi baik online maupun konservatif.
Ia mengajak para peserta untuk memaknai kepemimpinan pelajar secara lebih substansial.
Lima nilai tersebut harus diterjemahkan dalam sikap dan tindakan nyata, di lingkungan sekolah maupun ruang digital.
“Tantangan remaja hari ini bukan hanya yang terlihat secara fisik, tetapi juga yang terjadi di media sosial. Perundungan, kekerasan berbasis gender online, hingga normalisasi perilaku menyimpang sering terjadi tanpa disadari,” ujar Jeanette.
Menurutnya, Duta OSIS memiliki posisi strategis sebagai penggerak budaya sekolah. Bukan sekadar simbol kepemimpinan, tetapi figur yang mampu menjaga nilai, menciptakan ruang aman, serta memberi pengaruh positif bagi teman sebaya.
“Ketika kalian berani bersikap dan saling mendukung, perubahan itu bisa dimulai. Peer support (dukungan sebaya) jauh lebih efektif daripada sekadar larangan,” ucapnya.
Diskusi berlangsung interaktif. Peserta diajak merefleksikan kasus-kasus nyata yang kerap ditemui di sekitar mereka. Mulai dari akibat praktik pernikahan dini, penyalahgunaan narkoba, hingga perilaku bullying yang sering dianggap wajar.
Dari refleksi tersebut, peserta didorong untuk merumuskan peran konkret, yang bisa dijalankan di sekolah masing-masing.
Melalui kegiatan ini, Jeanette berharap para Duta OSIS mampu menjadi pelopor kampanye nilai-nilai positif. Mengedukasi teman sebaya secara berkelanjutan, serta menjadi teladan dalam membangun budaya sekolah yang inklusif dan berintegritas.
Sedangkan Ratih, memberikan materi mengenai psikologis maupun mental heart.
Hal tersebut menjadi penting, mengingat pada pada umur-umur tersebut. Para remaja rentan terhadap praktik-praktik manipulatif. Yang bisa menjurus pada perundungan, pelecehan maupun maupun kekerasan dalam berbagai bentuk.
Orang tua dan guru memiliki peran besar yang tak terhindarkan. Untuk selalu dapat menghadirkan ruang aman.
Kegiatan Duta OSIS 5 Anti ini dipimpin oleh Ketua Umum FOSIS Kabupaten Jepara, Haeval Cahya Rambang. Dibantu oleh Mohammad Akbar Khoirul Saputra sebagai ketua panitia.
Diketahui pembinaan FOSIS, berada di bawah Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA dan SMK Kabupaten Jepara.
Program ini menjadi salah satu langkah konkret FOSIS Kabupaten Jepara dalam menyiapkan generasi muda.
Agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keberanian moral dan kepekaan sosial dalam menghadapi realitas zaman.(fik)
Editor : Mahendra Aditya