Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bergantung Perahu, Sekolah dan Kerja Warga Desa Mintobasuki Gabus Pati Terancam Lumpuh Saat Banjir

M. Khoirul Anwar • Rabu, 21 Januari 2026 | 09:21 WIB
INCU: Anak  anak sekolah dan pekerja memanfaatkan fasilitas perahu dari pemerintah desa untuk beraktivitas sekolah dan bekerja di pabrik.
INCU: Anak anak sekolah dan pekerja memanfaatkan fasilitas perahu dari pemerintah desa untuk beraktivitas sekolah dan bekerja di pabrik.

PATI - Pagi di Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Pati, tak lagi dimulai dengan deru sepeda motor.

Sisa hujan masih menggenang ketika perahu-perahu kecil bergerak perlahan di atas jalan desa yang berubah menjadi sungai.

Anak-anak sekolah dan para pekerja naik bergantian. Perahu menjadi satu-satunya cara agar mereka tetap bisa berangkat sekolah dan bekerja.

Banjir akibat luapan Sungai Silugonggo merendam sebagian besar akses jalan desa. Kendaraan roda dua tak bisa melintas.

Sepeda motor ditinggal di pinggir jalan Dukuh Ngantru, sebelum warga melanjutkan perjalanan dengan perahu menuju permukiman atau sebaliknya ke jalan raya.

Melihat kondisi itu, Pemerintah Desa Mintobasuki memfasilitasi layanan antar-jemput gratis menggunakan perahu desa, dibantu perahu milik warga.

Layanan difokuskan untuk anak sekolah dan warga yang bekerja di luar desa agar aktivitas harian tidak terhenti.

Sekretaris Desa Mintobasuki, Abdul Mustaji, mengatakan layanan tersebut disiapkan karena jarak tempuh berjalan kaki terlalu jauh dan berisiko.

“Kasihan kalau harus jalan kaki hampir dua kilometer lewat genangan. Maka kami siapkan antar-jemput gratis pakai perahu desa,” ujarnya.

Perahu mengantar warga dari rumah-rumah yang terendam menuju sekitar Jembatan Ngantru, titik aman yang masih bisa dilalui kendaraan.

Dari sana, anak-anak melanjutkan ke sekolah, sementara pekerja menuju pabrik atau tempat kerja.

Data desa mencatat sedikitnya 241 rumah terendam, berdampak pada 313 kepala keluarga atau sekitar 800 jiwa, dengan ketinggian air di jalan mencapai 90 sentimeter.

Saat ini, desa baru memiliki satu unit perahu yang diadakan melalui Dana Desa pada 2024.

Karena jumlah penumpang terus bertambah, dua perahu milik warga ikut dikerahkan.

“Untuk 2026 kami sudah anggarkan BBM dan operator. Tahun ini juga kami rencanakan tambah satu unit perahu lagi,” jelas Abdul.

Ketergantungan pada perahu ini menunjukkan bagaimana banjir tak hanya merendam rumah, tetapi juga memutus akses dasar warga.

Selama luapan Sungai Silugonggo masih berulang, perahu akan terus menjadi penyelamat sementara. 

 

Editor : Ali Mustofa
#warga #banjir #pati #Pemdes #dana desa #sekolah #desa #pabrik