JEPARA - Air masih menggenang di halaman rumah warga Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung, Jepara, Senin (19/1/2026).
Aktivitas harian terganggu, perabot rumah dipindahkan ke tempat lebih tinggi, dan sebagian warga memilih bertahan sambil menunggu air benar-benar surut.
Banjir yang terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi selama sepekan terakhir itu merendam 240 rumah dengan sekitar 950 jiwa terdampak.
Di beberapa titik, genangan sempat mencapai 70 sentimeter sebelum berangsur turun menjadi 30–40 sentimeter.
Saat meninjau lokasi, Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar menemukan kondisi pendangkalan Sungai Jratun Kaligawe yang melintasi Desa Sowan Kidul.
Menurutnya, sungai tersebut sudah puluhan tahun belum dinormalisasi.
“Harapan masyarakat untuk dilakukan normalisasi. Karena 25 tahun terakhir baru dinormalisasi dan itu yang menjadi PR kita nanti,” ujar Hajar di lokasi.
Selain pendangkalan, faktor cuaca ekstrem turut memperparah situasi.
Debit air sungai meningkat tajam, sementara kapasitas alur sungai tidak lagi mampu menampung limpasan.
Topografi Jepara yang menjadi muara sejumlah sungai besar juga membuat wilayah hilir seperti Kedung dan Tahunan menerima banjir kiriman dari daerah lain.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di permukiman. Di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, sekitar 20 hektare lahan persawahan terendam.
Meski genangan dilaporkan mulai surut, aktivitas pertanian warga sempat terhenti dan membutuhkan waktu pemulihan.
Sebagai penanganan darurat, Pemkab Jepara mengerahkan BPBD untuk melakukan penyedotan air menggunakan pompa serta menyalurkan bantuan makanan tiga kali sehari bagi warga terdampak.
Namun langkah ini bersifat sementara, sementara persoalan pendangkalan sungai masih menunggu tindak lanjut koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Jika normalisasi sungai belum segera dilakukan, pertanyaan yang muncul di benak warga sederhana: sampai kapan wilayah hilir Jepara harus kembali bersiap setiap kali hujan deras turun?