Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Arus Sungai Gelis Tak Terkendali, Alat Berat Gagal Buka Akses Jalan Desa Tempur

Fikri Thoharudin • Selasa, 13 Januari 2026 | 18:09 WIB
TERHENTI: Alat berat masih belum dapat membuat pijakan untuk mengalihkan arus Sungai Gelis pada Selasa (13/1).
TERHENTI: Alat berat masih belum dapat membuat pijakan untuk mengalihkan arus Sungai Gelis pada Selasa (13/1).

JEPARA — Upaya pembukaan kembali akses jalan yang terputus belum dapat dilakukan kembali. Alat berat ditaklukkan ganasnya arus Sungai Gelis yang tak kunjung mereda.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Desa Tempur terisolasi sejak Jumat (9/1). Jalanan putus. Akses listrik dan jaringan semula telah pulih, namun kembali down pada Selasa (13/1).

Desa Tempur sendiri dikepung longsor. Berdasarkan data BPBD Jepara, hingga Selasa (13/1) terdapat setidaknya 24 titik longsor. Tidak ada korban jiwa, namun taksiran kerugian cukup besar.

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, menyampaikan alat berat belum dapat bekerja optimal karena cuaca ekstrem.

Intensitas hujan tinggi menyebabkan debit sungai meningkat drastis. Kondisi tersebut membuat pekerjaan di lapangan belum bisa dilanjutkan. 

“Sampai saat ini kami belum bisa bekerja karena kondisi alam masih ekstrem,” ujarnya saat meninjau pengerjaan di daerah Kaliombo tersebut.

BPBD berencana melakukan rekayasa aliran sungai, agar alat berat dapat menjangkau sisi seberang atau sempadan timur sungai.

Upaya tersebut sebenarnya telah dicoba sebelumnya, namun derasnya arus membuat air menginjak kabin alat berat. Keselamatan operator menjadi hal yang ditekankan. Pekerjaan dihentikan sementara.

Arwin menjelaskan, jika kondisi sungai mulai surut, pihaknya akan mengumpulkan para operator untuk melakukan percobaan kembali. 

Sampai saat ini telah diturunkan setidaknya empat unit alat berat ekskavator PC200, kelas 20 ton. Di antaranya juga berspesifikasi long arm. Belum lagi empat unit eksavator kecil, termasuk satu loader.

Fokus sementara diarahkan pada pengumpulan batu sebagai material bronjong, untuk menahan arus dan memperkuat struktur jalan.

Selain itu, BPBD juga telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 

Bahkan, komunikasi dilakukan langsung melalui video call pada Senin (12/1) untuk meminta dukungan Tim Reaksi Cepat (TRC) dari pusat.

“Kami sudah sounding ke pemerintah pusat. Saat ini tinggal menunggu tindak lanjut TRC,” katanya.

Untuk kebutuhan dasar warga terdampak, logistik pangan, obat-obatan, serta tenaga kesehatan telah disiagakan di Balai Desa setempat. 

Penanganan darurat tetap berjalan sembari menunggu kondisi memungkinkan untuk pekerjaan fisik.

Dalam rencana teknis, bagian eks jalan yang tergerus akan diperkuat menggunakan batu dan bronjong. 

Pada Selasa (13/1) 100 lembar beronjong telah sampai. Menunggu 400 sisanya yang masih dalam proses pengiriman. 

Aliran sungai akan dihalangi dengan cyclop. Untuk mengembalikan badan jalan hilang.

Arwin menegaskan, perbaikan dilakukan sesuai prinsip rehabilitasi dan rekonstruksi, yakni build back better

Jika sebelumnya lebar jalan hanya sekitar tiga meter, ke depan ditargetkan menjadi 4,5 meter. Dengan panjang penanganan sekitar 60 hingga 70 meter. Termasuk di titik lainnya.

"Ya, fokusnya ada di daerah Kaliombo ini dulu. Setelah rampung bisa menangani titik lainnya," singkatnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Sudarto, menyatakan pihaknya siap melakukan penanganan cepat dengan berkoordinasi bersama pemerintah provinsi. 

Penanganan sementara akan difokuskan pada rekayasa aliran sungai, agar jalan dapat kembali difungsikan.

BBWS Pemali Juana turut memastikan dukungan berupa bantuan bronjong untuk mempercepat penanganan darurat.

“Untuk sementara akan kami arahkan aliran ke sempadan sisi timur menggunakan bronjong. Permanennya (jalan, red) bisa cari alternatif lain. Sebab kalau masih tetap menggunakan jalan ini, dikhawatirkan akan terjadi longsor dari bukit atau banjir,” jelasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#jepara #tempur #jalan putus