Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pengobatan Alternatif-Tradisional Ahmad Rifai Ramai Didatangi Pasien

Fikri Thoharudin • Rabu, 7 Januari 2026 | 20:40 WIB
FOKUS: Ahmad Rifai tengah mengobati pasiennya di Pesantren Al Goib pada Rabu (7/1).
FOKUS: Ahmad Rifai tengah mengobati pasiennya di Pesantren Al Goib pada Rabu (7/1).

JEPARA — Selama setidaknya satu jam saat dikunjungi Radar Kudus pada Rabu (7/1) menjelang sore, terdapat setidaknya dua pasien yang datang.

Mereka ingin mencari perantara kesembuhan lewat Ahmad Rifai, 47, pimpinan Pesantren Al Goib Karangrandu Kecamatan Pecangaan.

Mereka berasal dari Batam serta warga dari Jepara sendiri.

Di luar itu, tak jarang Rifai juga melakukan kunjungan ke rumah pasiennya sendiri.

Pada saat yang sama, juga terdapat sejumlah jemaah, baik lelaki maupun perempuan yang sudah akrab. Tampak sebagai keluarga Ahmad Rifai sendiri.

Di dalam saung atau yang disebutnya sebagai Pesantren Al Goib itulah, selain bermujahadah ia juga membantu pengobatan alternatif-tradisional.

Menurutnya, di antara wejangan dari Sang Guru dari Ahmad Rifai yang ada di Cipondoh, Tangerang, jika ada yang meminta bantuan harus ditolong.

"Ya kalau ada yang minta tolong, (dibantu) pake doa. Senjatanya orang mukmin adalah doa, doa yang Allah rida," singkatnya.

Dalam mengobati pasiennya, ia menggunakan metode seperti pijat.

Pemijatan dilakukan menggunakan tangan, di beberapa titik, termasuk lewat perantara (jemaah sebagai mediator).

Saat dalam kunjungan Radar Kudus itu pun, terdapat yang tampak terkena gangguan jin. 

Ia (perempuan) mengeram kesakitan. Sembari sendawa, maupun mual-mual. Bahkan seakan tampak tercekik.

Di saat-saat inilah, muka mediator memerah dan seperti memuntahkan sesuatu. Sementara Ahmad Rifai tampak menarik benang tak kasat mata dari arah tubuh dan belakang kepala mediator.

Pada saat ini, Rifai membacakan sejumlah doa.

Terdengar lamat-lamat, secara dominan dibacakam menggunakan bahasa Jawa bercampur dengan bahasa Indonesia.

Juga dilakukan tepuk-tepuk. Pasien juga diminta untuk batuk, sambil mual dan meludah hingga muntah. Seperti mengeluarkan energi-energi negatif. Praktiknya tampak seperti ruqyah.

Hampir tidak terdengar bacaan dalam bahasa Arab. Selain kata 'Allah' 'Nur Muhammad' 'Kun Fayakun'. Di samping kata tersebut, kalimat 'Cagak Bumi' maupun 'Sisir Samudra' juga keluar saat Rifai membacakan doa.

"Sabdo ajining abdo, kun fayakun. Sirno, sirno, sirno, sirno. Sabdo ajining sabdo, pandito ratu, sirnaaken sedaya penyusup, sedoyo sirno. Allah. Sirno, sirno. Lebur genine neroko. Sirno," ucap Rifai saat mengobati pasiennya.

"Nopo tujuanmu tekan kene?" tanyanya kepada pasien yang tampak sedang kesurupan.

"Saya menutup mata, telinga. Tak rusak akale," jawab salah satu mediator yang tampak kesurupan.

"Allah. Minggat. Sirno. Allah. Sirno. Allah. Cagak Bumi.. Sirno. Sisir Samudro. Allah," ucap Rifai komat-kamit.

Kata Allah, Allah dan Allah dilafalkannya dengan nada lambat. Namun kadang-kadang juga cepat apabila pasien sudah merasa mual-mual. "Lepas. Sirna!" tegasnya.

Selama proses terapi tersebut para anggota atau jemaah yang kebetulan sedang berkunjung juga membantu proses terapi.

Mereka melantunkan kata, 'Allah' secara bersambung tanpa putus. Sesekali diselingi kalimat tahlil.

Di sela-sela pengobatannya ia mengatakan, Allah memiliki hak. Ilmu dan kekuasaan Allah bisa diberikan pada siapapun. Termasuk kesembuhan terhadap suatu penyakit.

Di penghujung waktu terapi terhadap pasiennya, Rifai juga meminta pasien untuk dimandikan dengan air laut (pantai).

"Terserah (Allah, red), kiai, ustaz ataupun wong macul itu kuasa Allah, yang penting tidak punya pengakuan. Orang kadang memvonis sesat, hakikat sesat itu apa? Ya, di saat ruh kita lepas dari jasad, tidak bisa kembali pulang sujud, itu hakikat sesat. Padahal sejatinya ruh sudah sujud dan makrifat kepada Allah," tanggapnya.

Rifai juga mengaku telah dibimbing di antaranya oleh Sabdo Palon. 

"Sifatnya tidak bisa dikatakan secara lahiriah, metafisika. Orang yang kebuka hijab kerohanian. Ruh ketemu ruh," ucapnya sembari menjawab pertanyaan wartawan Radar Kudus, saat ditanya di mana bertemu dengan Sabdo Palon.

Menurutnya orang awam acapkali menilai orang sesat maupun syirik.

Padahal, lanjut, Rifai itu merupakan hak prerogatif Allah. Sementara hal-hal yang menjurus pada hal tersebut pun juga bisa bermula dari dalam hati.

"Semua tarekat bagus, kadang ada yang kurang pas itu soal tujuan. Harusnya mencari rida Allah. Kalau mencari tujuan di luar itu (rida Allah, red) susah," sebutnya.

Di antara kalimat yang disebutkan oleh Rifai ialah 'Tri Tunggal'. Yang menurutnya, niat, ucapan, dan perbuatan (lampah) harus kembali pada Allah. 

"Tetap tujuannya kembali pada Gusti Allah. Ini tidak lantas make aneh-aneh, semua pinaringe Gusti Allah, semua haknya Allah. Kalau Allah tidak menghendaki, tidak bisa," ujarnya.

Apalagi menurut Rifai, ini adalah zaman akhir. Di mana ke depan akan muncul Satrio Piningit maupun Ratu Adil.

Ia juga mengaku telah lama membantu orang dengan berbagai keluhan. Baik yang terbaca menurut ilmu medis maupun non medis.

Tak hanya itu, Rifai juga menyinggung mengenai Perang Malhamah Kubra.

Sebagaimana diketahui, ini adalah pertempuran terbesar yang diriwayatkan terjadi di akhir zaman sebagai tanda kiamat. Melibatkan berbagai orang lintas agama dan kepercayaan. 

"Orang yang tidak terbuka hatinya, akan jadi penghalang (ruhnya, red) menghadap Allah," tegasnya.

Ia juga menyinggung mengenai praktiknya bersama dengan jemaahnya di kompleks Candi Prambanan pada penghujung akhir tahun 2025 lalu. 

Menurutnya, seseorang memiliki keyakinan masing-masing, namun juga tetap menjunjung tinggi akidah dan tauhid. Sehingga tak bijak jika hanya menilai dari sisi negatifnya belaka.

Sebab, di manapun tempat orang berdoa, Yang Maha Kuasa tetap tahu.

Lebih lanjut ia juga menyinggung mengenai potensi ataupun praktik penyimpangan dalam hal keagamaan.

"Bagaimana tugas MUI, seperti misalnya yang terjadi di Gunung Kemukus? Mengapa tokoh agama tidak mengurus itu. Misalnya memberi penyuluhan, bagaimana tata cara orang berziarah?" pungkasnya meninggalkan pertanyaan.(fik)

Editor : Ali Mustofa
#jepara #Pesantren Al Goib #pecangaan #Mujahadah Tauhid Eyang Semar Sabdo Palon #karangrandu