JEPARA — Ahmad Rifai, sosok pemimpin tahlil yang belum lama ini menghebohkan warga termasuk di jagat maya angkat bicara.
Ia menjelaskan secara jelas maksud dan tujuannya melakukan zikir tahlil di area Candi Prambanan pada Kamis (25/12) akhir tahun 2025 lalu.
Menurut warga yang kini berdomisili di Desa Karangrandu Kecamatan Pecangaan ini menyebutkan, pihaknya tengah menjalankan tugas dari leluhur.
Untuk napak tilas di sejumlah situs, terutama situs yang sarat sejarah dan budaya.
Pria berumur 47 tahun ini, membiarkan rambutnya tergerai, saat ditemui di kediamannya pada Rabu (7/1).
Dengan peci hitam, bersarung dan berkaos oblong ia menyalami hangat. Sejurus dengan kedatangan Radar Kudus. Tak tanggung-tanggung, kopi hitam panas pun turut disajikan.
"Saya kaget saat lihat berita, kami tidak pengin dikenal, malah ada yang menyebarkan," ungkapnya menyinggung video viral dirinya beserta jemaah pada Kamis (25/12) lalu di kompleks Candi Prambanan, Sleman, DIY.
Menurutnya, ia sedang membawa misi perjalanan spiritual. Termasuk di antaranya melakukan mujahadah di Candi Prambanan maupun Borobudur, Magelang.
"Pertama, memang saya punya tugas amanat dari leluhur, diarahkan untuk ke sana. Di sana pun, kami tidak membawa atribut agama manapun, tidak ada. Makanya saya katakan perjalanan saya ini perjalanan tauhid, menuju ketuhanan," singgungnya.
Menurutnya, perjalanan yang mengarah pada ketuhanan, itu sama artinya semua orang beragama, bertauhid.
"Tergantung mau make syariat Islam monggo, Hindu monggo, Buddha monggo. Pilihan. Cuma di sana, misi saya perjalanan spiritual," sebutnya.
Lebih lanjut dijelaskan, pada Kamis (25/12/2025) tersebut, perjalanannya bersama rombongan dua bus elf bermula di Pantai Segara Kidul.
"Sebelum di Candi, saya diaturi pinarak di Bunda Ratu (Nyi Roro Kidul, red), di Parangtritis. Terus di Makam Makam Syekh Maulana Maghribi yang ada di atasnya. Terus ke Candi Prambanan dan terakhir di Candi Borobudur," terangnya.
Rifai menjelaskan, saat di Candi Borobudur juga melakukan mujahadah. "Cuma di sana dikasih tempat dari pihak pengelola. Satu hari itu (25 Desember, red). Karena dikasih petunjuk di hari itu," katanya.
Menurutnya, secara lahiriah, sebagai warga Indonesia punya hak untuk menjaga dan merawat apa yang menjadi peninggalan leluhur. Termasuk warisan bangunan cagar budaya.
"Sebagai rasa terimakasih, saya sudah hidup, ditinggali situs budaya. Secara logika saya mendoakan leluhur saya zaman-zaman Mataram Kuno, apa saya salah? Jadi bangunan itu tidak semata-mata dimiliki oleh satu umat ndak. Ini memang untuk semua orang di Nusantara. Kecuali bangunan itu dibikin oleh generasi kita, maka saya harus perlu izin," sebutnya.
Pihaknya menegaskan, jika sudah cagar budaya, menurutnya siapapun warga negara Indonesia juga memiliki hak untuk menjaga dan merawat. "Kami mendoakan dengan keyakinan masing-masing apa juga salah? Apalagi masa itu masa pra-Islam, Mataram Kuno," katanya.
Rifai menambahkan, ia mengaku diminta leluhur untuk membebaskan Nyi Roro Jonggrang yang terkena sabda oleh Aji Bondowoso.
"Yang kena sabda oleh Aji Bondowoso, untuk melepaskan kutukan. Cuma itu saja tidak ada istilah misi-misi yang lain. Kalau masalah babagan kerohanian, perjalanan rohani sudah masuk ke perjalanan tasawuf, makrifat," ujarnya.
Meskipun kunjungan dan laku ke Candi Prambanan termasuk Candi Borobudur tersebut baru pertama kali, pihaknya menyebut, kerap napak tilas di sejumlah daerah.
"Saya juga sudah pernah napak tilas di Puncak Songolikur, Eyang Abiyoso, Eyang Sakli. Yang jelas antara Borobudur maupun Prambanan itu caranya, kunci Nusantara, termasuk ada di situ kuncinya sejarah Nusantara," ucapnya .
Pihaknya juga mengaku tengah mendapatkam tugas untuk segera napak tilas di daerah Pemalang.
"Sudah dikasih tugas untuk ke daerah Pemalang, ini sudah mau ke tempatnya Maulana Syamsuddin, Ki Jogo Segoro. Termasuk ke mbah Nur Durya, Moga, yang merupakan gurunya guru saya, dari Cipondoh, Tangerang. Guru saya (KH Nafis, red) memang tidak begitu terkenal. Buat apa kita dikenal manusia jika tidak dikenal Allah dan penduduk langit?" tandasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya