JEPARA – Dukungan agar Museum Kartini Jepara naik kelas menjadi Museum Tipe A sekaligus Cagar Budaya Nasional terus menguat.
Kali ini datang dari Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) Prof. Alamsyah, yang menilai Museum Kartini memiliki potensi besar sebagai pusat pengetahuan nasional, bahkan internasional, jika dikelola dengan pendekatan ilmiah, historis, dan teknologi yang memadai.
Menurut Prof. Alamsyah, penguatan museum tidak cukup hanya pada penataan koleksi, tetapi harus dilengkapi dengan deskriptif historis yang kuat serta pemahaman terhadap nilai bangunan sebagai bagian dari sejarah.
Ia juga menekankan, di satu sisi penting untuk segera merancang ruang pelengkap atas museum seperti misalnya pusat dokumentasi perempuan. Sehingga dokumentasi tentang Kartini dan gerakan perempuan di Tanah Air dapat tersimpan dan diakses secara luas.
“Kalau orang ingin belajar tentang Kartini maupun perempuan (tokoh, red) lainnya yang memiliki sumbangsih bagi bangsa, bayangan saya ada dua. Pertama, ada koleksi khusus tentang Kartini yang sifatnya individual. Kedua, ada pusat dokumentasi terkait perempuan secara global (nasional, red),” tanggapnya pada Kamis (18/12)
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan teknologi, termasuk visualisasi tiga dimensi, untuk menggambarkan perjalanan hidup Kartini.
Hingga kini, menurutnya, belum ada alat khusus (fasilitas di Museum) yang secara komprehensif menghadirkan perjalanan Kartini dalam bentuk tiga dimensi yang bisa dipasang di museum, padahal teknologi tersebut sangat penting untuk menarik generasi muda.
Selain itu, Prof. Alamsyah mengungkapkan bahwa ia juga menjalankan penelusuran “Jalan Kartini” di Belanda, di mana masih terdapat banyak bangunan, jejak sejarah dan penghormatan terhadap Kartini.
Inventarisasi eksistensi Kartini di luar negeri, termasuk di kota-kota besar lainnya, dinilai penting sebagai pelengkap narasi museum di Jepara.
“Museum itu berisi berbagai peninggalan. Kehidupan masa lalu dihadirkan kembali dalam kehidupan saat ini. Ada jejak yang berwujud dan tidak berwujud.
Kekuatan-kekuatan kuantitatif seperti lonjakan pengunjung juga perlu direspons sebagai bagian dari promosi,” jelasnya.
Ia menegaskan perlunya menghadirkan surat-surat Kartini, pemikiran, dan karya seni yang dapat dipublikasikan, sehingga relasi Kartini dengan kondisi sosial, budaya, dan politik pada masanya dapat ditampilkan sebagai sesuatu yang hidup.
Prof. Alamsyah menilai Museum Kartini memiliki keunikan dibanding banyak museum lain. Jika museum pada umumnya menampilkan benda sebagai pusat perhatian, Museum Kartini justru menawarkan narasi dari foto, surat, dan cerita kehidupan. Hemat kata, Living story museum.
Banyak benda yang ada memang belum ditetapkan sebagai cagar budaya, namun mengandung nilai sejarah yang tinggi dan memerlukan kajian dan deskripsi mendalam.
Ia juga menekankan pentingnya kehadiran fisik di museum sebagai upaya mencari kebenaran sejarah. “Kalau pengunjung hadir secara fisik di situ (Museum, red), pengunjung akan mendapatkan informasi yang sudah dideteksi oleh kurator. Ini penting untuk menangkal hoaks dan informasi simpang siur,” tegasnya.
Menurutnya, museum harus mampu mengomunikasikan fungsi edukasi, bukan hanya melindungi dan mengamankan koleksi. Dengan perpaduan koleksi asli dan duplikasi, deskripsi historis yang jelas, verifikasi tahun, serta pelengkap narasi berbahasa Inggris, museum dapat membangun imajinasi pengunjung tanpa mengganggu performa ruang.
“Orang Jawa sendiri misalnya, sering berpikir ada makna-makna di balik sesuatu, seolah mistik. Dengan makna yang hidup, kita bisa membawa psikologi dan kondisi masyarakat Jepara (pengunjung, red) pada masa Kartini,” ujarnya.
Ia berharap setiap pengunjung yang masuk ke Museum Kartini setidaknya saat keluar (pulang) punya pemahaman minimal 20 persen tentang Kartini, mulai dari kehidupan semasa dan pasca pingitan, latar keluarga, saudara kandung, hingga kontribusinya terhadap dunia melalui persuratan dan gagasan.
Dukungan serupa disampaikan Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, yang berharap Museum Kartini Jepara untuk ke depan menjadi Museum Tipe A.
Ia menyebut, target tersebut bukan hal yang berlebihan, mengingat animo publik yang sangat tinggi sejak museum diresmikan pada 15 November lalu oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon.
“Belum ada satu bulan, kunjungan sudah lebih dari 12 ribu orang. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat sudah tumbuh. Museum dianggap sebagai bagian dari kehidupan, ada rasa memiliki,” katanya.
Bu Rerie sapaan akrabnya juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, termasuk komunitas Rumah Kartini dan pemerintah daerah, yang terus bekerja secara kolaboratif meski dengan berbagai keterbatasan.
Ia menyebut, peresmian museum oleh Menteri Kebudayaan menjadi penanda bahwa Museum Kartini telah berada pada posisi yang diakui secara nasional.
“Ini bisa menjadi modal awal untuk melakukan penajaman-penajaman ke depan, tentu dengan mempersiapkan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi,” ujarnya.
Meski kewenangan pengelolaan berada di pemerintah daerah, Lestari mendorong agar semangat kolaborasi terus dijaga. Ia menilai Rumah Kartini pun telah menjadi motor penggerak yang memiliki komitmen tinggi dan patut dihargai.
Ia juga menyinggung dinamika rencana pembangunan Rumah Dinas Bupati di sekitar kawasan museum, tepatnya di area belakang pendopo.
Pasalnya area yang kini menjadi lapangan tenis tersebut dulunya juga merupakan kandang kuda ataupun gerbang interaksi Kartini dengan masyarakat umum.
Menurutnya, pemenuhan Rumah Dinas Bupati yang baru setelah Rumah Dinas yang sebelumnya dijadikan Museum, merupakan kewenangan pemerintah daerah dan DPRD.
Namun jika pembangunan dilakukan di kawasan museum, hal itu bisa menjadi kendala apabila kawasan tersebut ditargetkan sebagai Museum Tipe A atau Cagar Budaya Nasional.
Pada saat yang sama, dukungan akademisi, pemerintah pusat, komunitas, dan tingginya animo publik, Museum Kartini Jepara kini berada pada momentum penting untuk bertransformasi.
Tidak hanya sebagai ruang pamer sejarah, tetapi sebagai pusat studi, dokumentasi, dan kebanggaan tersendiri bagi daerah dan harapannya bagi bangsa. Mengingat pengaruh Kartini sebagai Sang Pencerah dan Pahlawan Nasional.
“Dilema itu sudah disampaikan (dalam forum, red). Terlepas dari itu, saya sendiri sangat mengapresiasi Bupati Jepara yang telah menyerahkan Pendopo dan Rumah Dinas beliau menjadi Museum. Saya yakin pemerintah daerah dan dewan bisa mencari jalan keluar terbaik,” pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya