JEPARA – Fakta baru terus terungkap dalam penyelidikan kematian Axsyal Rendy Saputra (24), pemuda asal Dukuh Sekuping, Desa Tubanan, Kabupaten Jepara.
Polres Jepara kini memeriksa enam saksi tambahan guna mengurai rangkaian peristiwa sebelum korban ditemukan tewas.
Langkah ini diambil karena kasus kematian Rendy sejak awal dinilai penuh kejanggalan. Sebelumnya, penyidik juga telah memeriksa enam saksi lainnya.
Kasatreskrim Polres Jepara AKP M Faizal Wildan Umar Rela menyampaikan, enam saksi tambahan tersebut merupakan orang-orang terdekat korban.
Mulai dari anggota keluarga, termasuk nenek korban, hingga sejumlah teman yang sempat berinteraksi dengan korban sebelum kejadian.
“Saat ini masih proses klarifikasi. Semua keterangan akan kami cocokan dan dalami,” ujar AKP Wildan.
Pemeriksaan lanjutan dilakukan lantaran situasi perkara masih dianggap abu-abu.
Meski sudah hampir dua pekan sejak korban ditemukan pada Minggu (30/11) di area kebun rumput gajah, polisi memilih bekerja secara hati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan.
Berbagai kemungkinan masih terbuka, sehingga penyidik perlu menggali informasi secara menyeluruh dari lingkungan terdekat korban.
Saat ditemukan, korban dalam kondisi terlentang bersimbah darah. Sejumlah luka yang diduga akibat benda tajam terlihat jelas di tubuhnya.
Pada bagian leher terdapat luka sayat sepanjang 13 sentimeter dengan lebar 6 sentimeter.
Di pergelangan tangan kiri ditemukan luka iris sepanjang 6 sentimeter dan lebar 3 sentimeter, sementara di bagian dada terdapat luka iris dangkal.
Polisi memastikan luka di leher menjadi penyebab utama kematian, karena mengenai nadi dan batang leher yang memicu pendarahan hebat.
Namun demikian, hingga kini belum ada pelaku yang ditetapkan. Kepolisian juga belum menyimpulkan apakah almarhum merupakan korban pembunuhan atau bunuh diri.
Sebagai bagian dari pendalaman, sebelumnya polisi juga telah menurunkan anjing pelacak ke lokasi kejadian.
Pelacakan dilakukan dari titik korban ditemukan menuju sejumlah lokasi lain yang diduga berkaitan.
“Anjing pelacak menelusuri TKP 1 dan TKP 2, lalu kembali ke rumah korban,” jelas AKP Wildan.
Temuan ini membuat penyidik harus melakukan verifikasi berulang, termasuk memanggil kembali saksi-saksi untuk dimintai keterangan tambahan.
Saat ini, polisi masih menunggu hasil pemeriksaan Bidlabfor Polda Jawa Tengah, guna mengetahui karakter luka secara detail, arah sayatan, hingga kemungkinan alat yang digunakan, meskipun sebelumnya telah ditemukan dua jenis pisau dapur dengan bercak darah.
Di tengah maraknya informasi liar di media sosial, AKP Wildan mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan spekulasi atau hoaks yang dapat menyesatkan dan menghambat proses penyelidikan.
“Proses klarifikasi masih berjalan. Jangan membuat asumsi yang tidak berdasarkan data,” tegasnya.
Pihak kepolisian berharap titik terang segera terungkap, seiring penggabungan temuan lapangan, hasil laboratorium forensik, dan keterangan para saksi. (fik/war)
Editor : Ali Mustofa