Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Berbagi Kiat Sukses di Hari Guru, Dua Alumni MAN 1 Jepara Pulang ke Madrasah

M. Khoirul Anwar • Selasa, 25 November 2025 | 18:04 WIB
HARU: Siswa-siswi MAN 1 Jepara bersalaman dengan para dewan guru dan memberikan sepucuk mawar merah di momen Hari Guru.
HARU: Siswa-siswi MAN 1 Jepara bersalaman dengan para dewan guru dan memberikan sepucuk mawar merah di momen Hari Guru.

JEPARA — Apel peringatan Hari Guru Nasional 2025 di MAN 1 Jepara, Selasa (25/11), berlangsung dengan suasana yang lebih hangat dari biasanya.

Tahun ini, madrasah menghadirkan dua alumni inspiratif yang pulang untuk berbagi kisah perjalanan hidup.

Zainal Abidin, General Manager Jawa Pos Radar Kudus, serta Vita Fauziah, guru muda yang kini bertugas di SDN 1 Plajan.

Kehadiran keduanya menjadi momen berharga. Bukan hanya bagi para siswa, tetapi juga para guru yang melihat langsung bagaimana buah pendidikan madrasah tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan bermanfaat bagi masyarakat.

Di hadapan ratusan siswa, Zainal Abidin membuka kisahnya dengan sebuah doa masa kecil yang masih ia ingat dengan jelas.

"Ya Allah, berikanlah saya peringkat I agar bisa membanggakan orang tua."

Masuk MAN pada 2002, Zainal harus menghadapi kenyataan pahit. Ibunya wafat saat ia duduk di kelas 2 karena kanker payudara.

Sejak di MAN 1 Jepara, ia tinggal di pesantren sebagai abdi dalem, sambil terus menghafal Alquran.

Photo
Photo

"Pagi sekolah, siang atau setelah ashar belajar pelajaran umum. Setelah magrib hafalan. Setelah isyak mengajar anak-anak MTs Bawu. Setelahnya ikut jualan di koperasi pesantren. Subuh setoran hafalan Alquran," jelasnya.

Perjuangannya berlanjut saat kuliah. Tahun 2005, ia menyelesaikan S1 sambil menjadi merbot masjid dan guru TPQ.

Di masa kuliah, ia juga hidup dari honor bikin artikel di media massa. Jualan buku. Juga pekerjaan samben lainnya.

Walaupun ia saat itu sudah dapat beasiswa.

Ia juga mengenang peran besar guru yang telah membantunya.

"Saya ingat cerita Pak Musalim dulu membawa ukiran ke Semarang agar bisa tetap kuliah. Maka saya harus bisa berjuang seperti beliau," kenangnya.

Di sela sela kerja sebagai wartawan, ia melanjutkan S2. Dan setelah lulus, ia sempat mengajar di UIN Walisongo Semarang dan Unisnu Jepara.

Zainal menegaskan bahwa dirinya tidak merasa sudah sukses.

"Saya belum sukses. Tapi perjalanan panjang ini saya harap bisa terpatri di hati adik-adik. Fondasinya ada di madrasah ini," ujarnya.

Kini, sebagai Ketua IKA MAN 1 Jepara, ia ingin meneruskan perjuangan agar madrasah semakin besar dan alumninya makin solid.

Ia kemudian berbagi pesan sederhana namun kuat.

“Kalau ingin sukses, bangun kebiasaan baik setiap hari. Karakter, etos kerja, komunikasi, dan literasi adalah modal utama. Madrasah ini fondasinya," pekiknya.

Jika Zainal menapaki jalan dunia jurnalistik, Vita Fauziah memilih jalur pendidikan. Namun langkahnya pun penuh perjuangan.

"Dulu saya sering ke perpustakaan bukan hanya untuk membaca buku, tapi karena tidak punya uang jajan," kisahnya jujur.

Di tempat itulah ia belajar, berdoa, dan menargetkan diri agar bisa masuk tiga besar paralel untuk mendapatkan beasiswa. Dan berhasil.

Vita menghabiskan banyak waktu di MAN. Dijuluki satpam MAN. Karena mengikuti OSIS, pramuka, dan berbagai ekstrakurikuler hingga sore hari.

Ia mengenang guru-guru yang membentuknya. Bu Suhartini, Pak Zen, Pak Tafrikhan. Prestasinya juga gemilang, termasuk Juara I Pidato Bahasa Inggris UIN Walisongo Semarang.

Ia melanjutkan kuliah di UNISNU sambil bekerja, menjadi pembina Pramuka MTsN 1 Jepara, hingga akhirnya lulus CPNS 2019.

"Semua ini barokah doa dan ilmu bapak ibu guru. Tidak ada yang tidak mungkin. Semua tergantung niat dan usaha," ujarnya.

Kepala MAN 1 Jepara, A. Rif’an, merasa bangga sekaligus haru menyaksikan dua alumni berdiri kembali di halaman madrasah.

"Hari Guru bukan hanya perayaan untuk guru, tetapi juga momentum melihat kembali jejak langkah para alumni. Kami bangga ketika mereka pulang dan berbagi," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa madrasah harus menjadi tempat kembali bagi siapa pun yang pernah ditempa di dalamnya.

"Madrasah harus menjadi rumah pulang, tempat yang selalu menyambut siapapun yang pernah tumbuh di sini," tuturnya.

Di momen itu, sebagai bentuk apresiasi, MAN 1 Jepara memberikan penghargaan kepada guru-guru berprestasi.

Mulai dari Musalim, Figur Guru Kedisiplinan dan Semangat Pengabdian; A. Shokip, Figur Guru Berdedikasi Praktik Keagamaan; M. Ali Imron, Inspirator Pendidikan Sosial; Syafriati Annur, Inspirator Riset; Wilda Ulfiyati, Inspirator Bahasa Inggris; dan Egga Septiani Wulandari, Inspirator Kesiswaan dan Ekstrakurikuler.

Acara ditutup dengan pembacaan puisi oleh guru dan siswi. Dalam momen yang penuh kehangatan, Kepala MAN 1 Jepara A. Rif’an melakukan tradisi simbolis.

Menyuapi siswa-siswi sebagai bentuk ungkapan kasih.

Upacara diakhiri dengan menyanyikan Hymne Guru, musafahah, dan pemberian mawar merah dari siswa kepada guru.

Hari Guru Nasional di MAN 1 Jepara tahun ini bukan sekadar apel, tetapi perjumpaan lintas generasi.

Tempat cerita perjuangan, ucapan terima kasih, dan harapan masa depan bertemu di satu ruang yang sama. Madrasah. (war)

Editor : Ali Mustofa
#jepara #hari guru #MAN