Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menteri Kebudayaan Terpukau dengan Karya di Sentra Ukir Senenan Jepara, Saksikan Produksi untuk Pameran Tatah di Galnas 2026 Mendatang

Fikri Thoharudin • Minggu, 16 November 2025 | 02:25 WIB

BERTAHUN-TAHUN: Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon tengah menilik detail karya ukir ekosistem bawah laut didampingi dengan sang seniman Hartono Kasari (berblangkon) pada Sabtu (15/11).
BERTAHUN-TAHUN: Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon tengah menilik detail karya ukir ekosistem bawah laut didampingi dengan sang seniman Hartono Kasari (berblangkon) pada Sabtu (15/11).

JEPARA — Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon melakukan kunjungan di salah satu rumah produksi Sentra Ukir Desa Senenan Kecamatan Tahunan.

Ia tampak terpukau saat menyaksikan langsung proses produksi karya pada kunjungan yang berlangsung pada Sabtu (15/11) sore. 

Hal tersebut merupakan bagian dari rangkaian persiapan Pameran Seni Ukir Jepara “TATAH”, yang rencananya akan digelar di Galeri Nasional Jakarta pada 17 April–17 Mei 2026 mendatang.

Menteri hadir didampingi Bupati dan Wakil Bupati Jepara, anggota Komisi VII DPR RI Abdul Wachid, jajaran Forkopimda dan para pengurus HIMKI serta seniman dan budayawan Jepara. 

Mereka meninjau langsung para pengukir yang sedang menatah karya-karya yang dipersiapkan untuk pameran tersebut. Tak hanya generasi yang telah berumur, di rumah produksi ini juga terdapat tak sedikit anak-anak yang turut belajar menatah dan mengukir.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyampaikan bahwa, kunjungan tersebut merupakan rangkaian usai Bupati Jepara Witiarso Utomo melakukan audiensi di Jakarta beberapa waktu lalu, bersama dengan para pemerhati seni ukir Jepara.

"Pak bupati sudah membawa teman-teman yang punya inisiatif dan gagasan untuk bertemu dengan saya, akan diselenggarakan pameran (Tatah, Red) di Jakarta. Sekarang giliran saya untuk berkunjung ke sini melihat langsung bagaimana proses pembuatannya," katanya.

Sesampainya di lokasi sekitar pada pukul 16.50 Menteri Kebudayaan langsung menyisir setiap sudut ruangan. Menyaksikan satu persatu karya dari yang berukuran 30-an sentimeter hingga yang berukuran jumbo.

Pihaknya menyebutkan bahwa kualitas karya para pengukir Jepara layak mendapatkan apresiasi yang lebih tinggi, bukan hanya sebagai produk kerajinan, tetapi sebagai karya seni yang memiliki ekspresi, imajinasi, dan nilai budaya yang mendalam.

Menurutnya, banyak karya ukir Jepara yang memerlukan proses panjang hingga bertahun-tahun, dan di dalamnya terdapat dedikasi hidup para seniman, waktu, tenaga, pikiran, dan ekspresi budaya yang tidak ternilai.

Ia menegaskan bahwa perbedaan utama antara pameran kerajinan dan pameran seni terletak pada tingkat artistik, imajinasi, dan ekspresi kreatifnya. Karena itu, ia mendorong agar pameran seni ukir seperti “Tatah” dapat lebih sering diselenggarakan.

JUMBO: Menteri Kebudayaan Fadli Zon terpukau dengan proses produksi karya berukuran raksasa pada Sabtu (15/11).
JUMBO: Menteri Kebudayaan Fadli Zon terpukau dengan proses produksi karya berukuran raksasa pada Sabtu (15/11).

"Kami ingin karya ukir Jepara tidak hanya dilihat sebagai kerajinan massal, tetapi sebagai karya seni. Apresiasinya tentu akan berbeda," tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan proses pendaftaran Ukir Jepara ke UNESCO sebagai Ingitable Cultural Heritage (ICH) ataupun Warisan Budaya Takbenda Dunia. 

Penyusunan naskah akademik dan dokumen pendukung lainnya sedang berlangsung, dan kunjungan ke Senenan menjadi momentum penting untuk melihat langsung kekuatan tradisi ukir Jepara.

Ia menambahkan, Kementerian Kebudayaan siap memberikan dukungan penuh, sementara para kurator Galeri Nasional akan mengatur jadwal pasti penyelenggaraan termasuk untuk pengembangan interpretasi seni kontemporer. 

"Semuanya menarik. Saya pribadi tertarik pada karya keris (jumbo) dan bilah panjang (pedang, Red) yang saya lihat di sini," sebutnya.

Menurutnya, para perajin saat ini yang masih bertahan di Jepara merupakan senima yang amat berdedikasi terhadap pelestarian dan kemajuan ukir. "Jumlahnya juga tidak banyak, seniman terseleksi dengan sendirinya, mendedikasikan waktu, pikiran, tenaga, dan hidup," ringkasnya.

Pameran TATAH 2026 akan menjadi bagian dari trilogi pameran tiga tahun berturut-turut bertema besar “Harta, Tahta, dan Pusaka.”

Konsep ini dirancang untuk menggambarkan filosofi perjalanan, martabat, dan warisan para pengukir Jepara dari masa ke masa.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, tema “Harta” mewakili kekayaan warisan leluhur yang terwujud dalam ragam hias dan keahlian ukir Jepara. Jejaknya dapat dilihat pada ornamen klasik, salah satunya di Masjid Mantingan.

Tahap “Tahta” menggambarkan upaya mengangkat martabat pengukir Jepara. Selama ini mereka sering disebut “tukang”, padahal sejatinya adalah seniman yang menciptakan karya bernilai tinggi. Pameran ini diharapkan dapat mengembalikan penghormatan kepada para pengukir sebagai pewaris budaya bangsa.

Sementara itu, tema “Pusaka” menegaskan bahwa seluruh tradisi dan karya ukir Jepara adalah warisan berharga yang harus dijaga bersama. Warisan tersebut bukan hanya milik Jepara, tetapi juga milik Indonesia.

Nantinya, seluruh karya yang ditampilkan merupakan karya baru yang belum pernah beredar di pasaran. Pameran akan memadukan gaya klasik, tradisional, hingga sentuhan kontemporer sebagai bukti dinamika dan kreativitas pengukir Jepara lintas generasi.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#pameran #Senenan #galeri nasional #ukir jepara #Menteri Kebudayaan