JEPARA - Jelang malam penganugerahan Jepara International Furniture Design Award (JIFDA), dilakukan talkshow yang menghadirkan arsitek dan desainer ternama seperti Cosmas D. Gozali, Eugenio Hendro, serta Zulyo Kumara.
Dalam kegiatan yang diselenggarakan pada Sabtu (18/10) sore di Pendopo Kabupaten Jepara tersebut, dihadiri oleh puluhan peserta, baik muda ataupun praktisi di bidang mebel dan ukir di Jepara dan sekitarnya.
Cosmas menegaskan pentingnya riset mendalam dan kemampuan mengombinasikan berbagai corak dalam pengembangan produk furnitur, agar mampu menjawab selera pasar yang terus berubah.
Menurutnya, dunia desain dan pasar global kini bergerak sangat cepat, terutama karena perubahan perilaku generasi muda yang dianggap mudah bosan dan menginginkan hal-hal praktis serta minimalis.
"Kita harus melakukan riset, apa yang bisa dikembangkan, apa yang sudah lewat masanya, dan kekuatan dari ukiran Jepara yang harus terus dijaga,” ujar Cosmas.
Ia menekankan, riset tidak hanya sebatas pada teknik ukir atau bentuk produk, tetapi juga harus mencakup perubahan pasar, perilaku konsumen, dan tren global.
“Searang ini, anak-anak muda lebih menyukai desain minimalis. Tapi bukan berarti ukiran ditinggalkan. Ukiran bisa menjadi added value jika dikombinasikan dengan elemen modern,” tambahnya.
Cosmas mencontohkan, perpaduan antara gaya klasik dan kontemporer bisa diterapkan misalnya pada bagian tertentu seperti kaki meja, sisi top table, atau elemen dekoratif lainnya.
“Minimalis tetap bisa dikombinasikan dengan ukiran tertentu. Yang penting gaya bahasanya dimengerti dan tidak terlalu rumit, agar generasi muda juga bisa menerjemahkan maknanya,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya riset terhadap budaya dan kebutuhan masyarakat. “Kelemahan kita seringkali, merasa sudah tahu apa yang dibutuhkan orang. Padahal 60 persen kesuksesan produk ditentukan oleh riset. Perusahaan besar selalu melakukannya,” ucapnya.
Selain itu, ia mendorong pelaku industri untuk berani 'berdarah-darah' di awal, serta terus eksis di berbagai event dan pameran, agar tetap diingat oleh pasar.
“Kalau hanya tampil sekali lalu hilang, orang akan lupa. Karena itu, penting tampil konsisten dan terus melakukan riset terhadap perubahan karakter manusia,” singgungnya.
Cosmas juga menilai, ukiran Jepara perlu diarahkan agar tetap relevan dengan zaman, tanpa kehilangan identitasnya.
“Kalau semua membuat produk yang sama, persaingan jadi ketat. Karena itu, kita perlu menciptakan proyek dan tren baru, bahkan berpikir di luar konteks yang ada,” imbuhnya.
Ia optimistis, dengan pendekatan riset yang kuat dan kualitas yang tidak bisa dikompromikan, industri mebel Jepara akan terus bertumbuh dan menjadi kekuatan besar di pasar global.
“Kita tidak bisa menjual sampah kepada masyarakat. Kualitas harus dijaga. Inilah yang menjadi kekuatan kita,” tegasnya.
Optimisme tersebut juga didukung oleh potensi pasar luar negeri. “Kemarin saya dihubungi beberapa rekan dari Jepang. Mereka bilang ekonominya sedang lesu, tapi justru melihat Indonesia punya potensi besar. Kalau mereka saja melihat peluang itu, bagaimana dengan kita yang ada di sini?” bebernya sembari menyebutkan peluang.
Sementara itu, mahasiswi jurusan Desain Produk Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara asal Senenan, Elisa, 21, mengaku tertarik mempelajari desain agar kelak bisa membuka usaha furnitur sendiri.
“Saya ingin membuat produk dengan gaya khas Jepara tapi lebih kekinian,” tuturnya.
Ia juga ingin merintis sebuah showroom dengan produk-produk di samping klasik juga modern-minimalis.
Peserta lain, Saskia Maharani, pelaku usaha gitar artistik dari Kudus, berharap ajang seperti JIFDA dapat memperkuat kolaborasi antardesainer dan pelaku industri.
“Kami ingin memperbaiki value produk melalui kolaborasi. Penjualan gitar akustik kayu sekarang lumayan bagus,” tandasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya