JEPARA - Bupati Kabupaten Jepara Witiarso Utomo bersama Wabup M Ibnu Hajar didampingi Forkopimda meninjau lokasi percepatan Sekolah Rakyat (SR) yang dilaksanakan di UPTD Balai Latihan Kerja (BLK) Pecangaan Kulon.
Pada Rabu (3/9) pagi hari, dilakukan pengecekan ruangan demi ruangan.
Seperti ruang kelas, asrama guru serta siswa hingga dapur dan kompleks SR, berdampingan dengan ruang Praktik BLK.
Meja, kursi, papan tulis hingga sarana pembelajaran lainnya, hingga ranjang bertingkat serta kasur dan almari telah di-dropping dan disusun rapi.
Selain Kota Semarang, Surakarta dan Sragen, Kabupaten Jepara termasuk daerah di Jawa Tengah dengan persiapan SR gelombang 1C tercepat.
Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan bahwa saat ini persiapan hampir selesai 100 persen. Tinggal perapian dan pembersihan gedung.
"Siap dilakukan pembelajaran, informasi dari Kemensos pada pertengahan September. Peresmian (launching, Red) langsung dari pusat. Mudah-mudahan lancar," ucapnya.
Pihaknya menilai, dengan fasilitas yang ada dan memadai, diharapkan dapat membuat siswa nyaman dan cepat berkembang dalam proses pembelajaran.
"Cukup bagus sarana dan prasarananya. Mudah-mudahan membuat siswa kerasan. Siswanya 75, setiap kelas 25. Perempuan 42, sisanya laki-laki. Saat ini sudah ada kepala sekolah 1 dan guru 3," sebutnya.
Tak hanya itu, nantinya juga terdapat guru asuh. Sehingga, usai pembelajaran sekolah formal bisa dilakukan pendampingan lebih lanjut dalam pendidikan berkarakter.
"Dari calon siswa ini ada yang masih sekolah. Selama ini ketemu sangat antusias dengan SR. Dapat makan tiga kali bahkan snack. Mebeler bagus, fasilitas bagus. Harapannya bisa menekan ATS. Selain itu memotong rantai kemiskinan yang ada di Jepara," tandasnya.
Pada saat yang sama, Kepala SR Asri Linda Listyaningrum menyampaikan bahwa kurikulum yang akan diterapkan sebagaimana kurikulum nasional.
"Seperti pendidikan formal yang lain, cuma pelaksanaan fleksibel. Selain sekolah, selepas itu akan ada pola pembimbingan dan pengasuhan yang akan diterapkan. Sore dan malam ada pembiasaan rohani, kebetulan ini Muslim semua," tanggapnya.
Dari para calon siswa yang beberapa masih bersekolah di sekolah tingkat dasar, rata-rata berumur 6-11 tahun.
"Nanti akan kami petakan, ada tiga rombel. Kelas a usia 6-8 tahun, kelas b usia 9 tahun, serta usia 11 tahun kelas c," sebutnya.
Tak hanya itu, pihaknya juga menyebut, jika guru ataupun kepala sekolah tidak wajib berada di asrama. "Tapi di sini tiga orang guru kita arahkan untuk itu," hematnya.
Lebih lanjut diterangkan, para siswa ke depan juga akan di-support fasilitas penunjang pembelajaran Learning Management System (LMS).
"Sebenarnya nanti ke depan akan memperoleh laptop, untuk mendukung literasi digital. Karena belum berproses, kita lihat perkembangannya. Termasuk pengalaman dan permasalahan di tingkat awal. Fokus membuat anak merasa aman dan enjoy tinggal di sini," terangnya.
Tak hanya itu, juga akan dilakukan proses masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) hingga tiga bulan.
"Dilaksanakan untuk mendorong supaya anak betul-betul kerasan di sini," tandasnya.(fik)
Editor : Ali Mustofa