Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menyaksikan Pragat Kerbau dan Berebut Telandik pada Sedekah Bumi Tempur

Fikri Thoharudin • Jumat, 2 Mei 2025 | 21:30 WIB
SUSAH PAYAH: Para penjagal tengah mengabrukkan kerbau untuk disembelih.
SUSAH PAYAH: Para penjagal tengah mengabrukkan kerbau untuk disembelih.

JEPARA - Sedekah Bumi Desa Tempur 2025 telah dimulai. Rangkaian acara pembuka telah dilakukan, yaitu pragat kerbau serta manganan dan doa bersama.

Sebelum matahari menampakkan sinarnya, sejumlah warga telah berkumpul di Petinggen Desa Tempur.

Mereka hendak melakukan pragat atau penyembelihan kerbau. Prosesi ini menandai bagain awal pelaksanaan sedekah bumi.

Mbah Modin Desa Tempur, Ali Anwar menyampaikan bahwa hal tersebut telah menjadi adat dan tradisi.

"Harus ada mahesa (kerbau, Red) meskipun kecil. Tapi kali ini cukup besar sekitar 1,3 kuintal," ungkapnya usai prosesi penyembelihan.

Setelah prosesi pragat kerbau selesai pada pukul 07.00, acara dilanjutkan dengan slametan di Petinggen Desa Tempur.

"Setiap petinggi selaku pemangku desa ini mendapat amanah dari masyarakat, sehingga juga ada hajat slametan, dengan dekem (ayam, Red). Kemudian juga seteleh Zuhur pak Inggi nampi (menerima, Red) amanah di pendapa Balai Desa," katanya.

Hal yang menarik saat prosesi sedekah bumi ini ialah siapapun warga yang datang, dijamu secara hangat.

Selain nasi dan berbagai olahan masakan, yang menjadi khas dari Desa Tempur ialah tape ketan dan gemblong.

"Termasuk daging kerbau ini bukan untuk warga, namun untuk para tamu. Siapapun yang masuk ke sini, rupo nopo mawon (makanan apa saja, Red) damel tamu," tuturnya.

Kendati demikian, tak sedikit warga yang berasal dari luar daerah yang turut membuat lapak. Baik makanan, minuman, ataupun sejumlah wahana hiburan.

Proses pemragatan juga termasuk kirim doa kepada leluhur yang telah mbahurekso Desa Tempur.

TUMPLEK BLEK: Ratusan warga ikuti prosesi manganan dan kirim doa sebelum berebut telandik di Makam Mbah Kamunoyoso.
TUMPLEK BLEK: Ratusan warga ikuti prosesi manganan dan kirim doa sebelum berebut telandik di Makam Mbah Kamunoyoso.

"Kirim doa kepada semua leluhur, zaman rumiyen (dulu, Red) mungkin tidak jadi satu. Ada yang putihan, abangan, akan tetapi tujuannya sama yaitu sengkuyung bareng membangun desa," terangnya.

Ali Anwar menjelaskan, pemilihan sedekah bumi didasarkan pada Jumat Wage setiap bulan Apit.

"Seminggu sebelumnya juga dilakukan selamatan di makam Mbah Romban, tepat pada Jumat Pahing," ujarnya.

 

MERIAH: Tumpukan telandik dibacakan doa terlebih dahulu sebelum dibagikan.
MERIAH: Tumpukan telandik dibacakan doa terlebih dahulu sebelum dibagikan.

Sedangkan pada Jumat (2/5) ialah prosesi inti, setelah pagi hari pragat kerbau. Kemudian bertolak manganan dan doa bersama di makam-makam leluhur.

Di antaranya ialah Petilasan Mbah Romban yang berada di area Persawahan Pondok Ruyung, Dukuh Petung. Kemudian Makam Mbah Kamunoyoso, di Dukuh Pekosa.

Pada saat yang bersamaan juga dilakukan di Makam Eyang Parikanan yang berada di Hutan Mahkaman atau area perkebunan kopi. Serta di Mbah Robyong di Dukuh Duplak dan Mbah Jenggot Dukuh Kemiren.

Ratusan warga tumplek blek di Makam Mbah Kamunoyoso sejak pukul 07.30. Mereka ingin turut kirim doa dan berebut telandik atau berkat berisi berbagai macam makanan.

Sekretaris Desa Tempur, Mahfudz Aly menyampaikan bahwa dalam proses manganan dan doa bersama tersebut, telandik telah disiapkan oleh para warga.

"Setiap KK menyedekahkan dua telandik, kebanyakan warga yang datang malah dari luar Desa Tempur," ujarnya.

Isi dari telandik atau berkat yang dibalut anyaman bambu selain nasi beserta lauk, juga gemblonh, tape ketan, bubur merah, dan sejenisnya.

"Telandik ini tidak bisa ditunggalkan. Dibagikan ke pengunjung, dianggap salah satu yang membawa keberkahan di Desa Tempur dan sekitarnya. Yang datang seperti warga dari Desa Kunir, Sumanding, Jepara, Gunungwungkal, Pati Juwana, Rahtawu, dan sekitarnya," tuturnya.

Selain itu juga dilakukan manganan dan doa bersama termasuk pembagian telandik di Petilasan Mbah Romban.

"Tempat ini merupakan asal muasal Desa Tempur, berada pada bertemunya Kali Gelis dan Kali Pondok Ruyung.

Di Desa Tempur sendiri terdapat setidaknya 1000-an KK dengan 3630 jiwa. Semuanya kompak bersama-sama mengayu bagya sedekah bumi setiap tahunnya.

"Swadaya per KK Rp 100 ribu. Terkumpul Rp 110-an juta, dana ini digunakan untuk mencukupi keperluan sedekah bumi. Adapun tanggapan tayub, ketoprak dan sejenisnya dibantu dari alokasi dana desa," jelasnya.

Mahfudz mengatakan, di antaranya rangkaian yang dinanti-nanti warga ialah manganan dan pembagian telandik di Petilasan Mbah Romban.

Ratusan orang memenuhi area Petilasan tersebut sejak pukul 08.30, sebelumnya warga berjalan kaki sekitar 500 meter di jalan setapak area persawahan.

SUMRINGAH: Pengunjung tampak bahagia menenteng telandik.
SUMRINGAH: Pengunjung tampak bahagia menenteng telandik.

Anak-anak, remaja hingga kalangan dewasa tak mau melewatkan prosesi ini.

Telandik dibagikan usai pembacaan atur keselamatan oleh sesepuh desa dan tahlil serta doa rampung.

"Kebanyakan memang dari luar daerah. Mereka mengharap berkah dari rangkaian sedekah bumi ini," tutupnya.(fik)

Editor : Ali Mustofa
#jepara #doa bersama #Adat #sedekah bumi #tempur #tradisi #kerbau