JEPARA – Ramadan selalu identik dengan berburu takjil menjelang waktu berbuka.
Di Jepara, ada satu lokasi yang kini ramai dikunjungi masyarakat untuk mencari hidangan berbuka puasa, yakni pasar sore di Rest Area Ngetuk Garden, Desa Ngabul, Kecamatan Tahunan.
Pasar ini hadir sebagai pusat kuliner tradisional yang menawarkan beragam jajanan khas, dari aneka kue basah, kolak, hingga minuman segar.
Tak hanya memanjakan lidah, pasar sore ini juga menjadi upaya untuk menggerakkan perekonomian warga setempat.
Baca Juga: Ruang Multimedia SMPN 2 Jepara Terbakar, Ini Dugaan Penyebab dan Kerugiannya
Dari Pasar Akhir Pekan Jadi Sentra Kuliner Ramadan
Biasanya, pasar yang dikelola oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ini hanya buka pada akhir pekan.
Namun, selama Ramadan, pasar ini beroperasi setiap sore hingga menjelang waktu berbuka.
Kepala Desa Ngabul, Sholehan, menyampaikan bahwa kehadiran pasar sore Ramadan ini bertujuan untuk memberikan alternatif tempat berburu takjil bagi masyarakat sekitar.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi warga setempat, terutama ibu-ibu anggota Dasawisma (Dawis), untuk meningkatkan pendapatan mereka.
"Berbagai macam makanan dan minuman tersedia di sini, terutama takjil khas Nusantara. Dengan adanya pasar ini, kami berharap ekonomi masyarakat semakin bergerak," ujar Sholehan, Rabu (6/3).
Ia juga menekankan bahwa di tengah perlambatan sektor industri ukir di Jepara, masyarakat harus mulai beradaptasi dan mencari sumber ekonomi lain.
Pasar kuliner ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi warga yang terdampak menurunnya industri ukiran yang selama ini menjadi ikon ekonomi daerah tersebut.
"Kami melihat peluang di sektor ekonomi kerakyatan. Jika industri ukir mengalami krisis, kami harus mendorong sektor lain, seperti kuliner dan UMKM," tambahnya.
Mendongkrak UMKM Lokal, Pengunjung Membludak
Pasar sore di Rest Area Ngetuk Garden ini bukan hanya diminati oleh warga sekitar, tetapi juga menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah.
Berkat lokasinya yang strategis di jalur utama Jepara-Kudus, banyak pengendara yang singgah untuk membeli hidangan berbuka.
Antusiasme masyarakat terhadap pasar ini terlihat dari ramainya kunjungan sejak sore hari.
Para pembeli tak hanya datang untuk mencari takjil, tetapi juga menikmati suasana sore di area yang asri dan nyaman.
Baca Juga: Kabar Baik, Kabupaten Jepara Berpotensi Tambah Rintisan Desa Wisata Baru, Begini Penjelasan Dinas
Salah satu pedagang, Siti Rokayah, mengungkapkan bahwa omzet dagangannya meningkat signifikan sejak pasar ini dibuka setiap sore.
Biasanya, ia hanya berjualan pada akhir pekan, namun kini bisa mendapatkan pendapatan lebih besar karena adanya pasar Ramadan ini.
"Alhamdulillah, dagangan cepat habis. Biasanya saya hanya jualan seminggu sekali, sekarang tiap hari bisa dapat pemasukan tambahan," ujarnya.
Pengunjung pun mengaku senang dengan adanya pasar sore ini karena mereka bisa menemukan berbagai hidangan berbuka dalam satu tempat.
"Di sini lengkap, dari jajanan pasar, es dawet, hingga gorengan ada semua. Harganya juga terjangkau," kata Fajar, salah satu pembeli.
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Jepara 2025: Panduan Waktu Puasa dan Shalat Selama Ramadan
Wisata Kuliner yang Bisa Jadi Tradisi Tahunan
Melihat respons positif dari masyarakat, ada harapan besar agar pasar sore Ramadan di Rest Area Ngabul ini bisa menjadi tradisi tahunan.
Selain membantu perekonomian warga, kehadiran pasar ini juga memperkuat budaya kuliner tradisional yang semakin langka.
Ke depan, pemerintah desa berencana untuk memperluas pasar ini dengan menambah jumlah pedagang dan variasi kuliner yang ditawarkan.
Dengan semakin berkembangnya pasar sore ini, tidak menutup kemungkinan Rest Area Ngetuk Garden akan menjadi destinasi wisata kuliner khas Ramadan yang menarik perhatian wisatawan dari luar daerah.
Bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya yang ingin merasakan suasana berburu takjil dengan nuansa khas pedesaan, pasar sore di Ngabul bisa menjadi pilihan utama.
Selain menikmati beragam kuliner tradisional, berbelanja di sini juga berarti ikut mendukung perekonomian lokal.(rom)
Editor : Mahendra Aditya