JEPARA - Masyarakat Desa Mayong Lor Kecamatan Mayong menggelar kirab budaya pada Rabu (17/7).
Kegiatan itu dilakukan sebagai salah satu rangkaian haul dan buka luwur Makam Kanjeng Bu Mas Semangkin.
Ribuan orang telah membanjiri sepanjang jalan Desa Mayong Lor pada Rabu (17/7) pukul 12.30 WIB.
Warga dan pengunjung tampak antusias menyaksikan peringatan dua tahunan tersebut.
Para peserta kirab mengenalan pakaian adat Jawa, serta khas prajurit.
Puluhan ingkung serta gunungan ikut diarak keliling desa hingga sampai di Makam Kanjeng Bu Mas Semangkin yang berada di Dukuh Krajan, Desa Mayong Lor.
Petinggi Desa Mayong Lor, Tri Agus Budianto menyebutkan Kanjeng Bu Mas atau Roro Ayu Mas Semangkin ialah putri kedua Pangeran Haryo Bagus Mukmin atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Prawoto.
Atau merupakan cucu dari Sultan Trenggono sekaligus cicit dari Sultan Raden Fatah Demak.
Kanjeng Bu Mas Semangkin menjadi tokoh yang sangat berjasa di masa lampau. Mengingat beliau juga menjadi cikal bakal Desa Mayong Lor. Tak salah, jika sosoknya dijuluki pahlawan bagi warga setempat.
"Menurut sejarah, dulunya beliau ditugaskan di Mayong untuk mengamankan daerah dalam kurun waktu tertentu, karena terjadi banyak kegaduhan. Hingga mendirikan semacam padepokan dan dimakamkan di sini," ungkapnya.
Jalannya kirab dilakukan dua tahun sekali, bergilir dengan perayaan momen bulan kemerdekaan (Agustus).
Segenap unsur masyarakat turut sengkuyung bareng jalannya acara sebagaimana ditampilkan pertunjukan kesenian seperti reog, tari, rebana, drumband, serta parade lainnya.
"Setelah arak-arakan kemudian berebut gunungan serta nasi bungkus yang disiapkan oleh masing-masing KK sebanyak 20 bungkus," ujarnya.
Sementara itu, luwur diganti usai kirab gunungan tersebut selesai. "Sebelum puncak acara ini, sebelumnya juga dilakukan pembacaan Alquran 30 juz setiap hari. Dari tanggal 1-10 Muharam. Dilanjutkan istighotsah dan pengajian akbar," sebutnya.
Pada saat yang sama, sesepuh desa, Samudi menyampaikan dari tahun ke tahun perayaan kirab semakin meriah.
"Ini menjadi waktu yang tepat untuk mengungkap peran Kanjeng Bu Mas sebagai leluhur desa. Masyarakat juga mengayu bagya dengan bergotong royong menyukseskan acara," tanggapnya.
Pihaknya berharap supaya masyarakat lebih guyub dan rukun seiring dengan adanya tokoh dan perayaan tersebut.
"Karena kegiatan ini memang sudah mulai ada sejak dulu, turun temurun. Setiap 10 Muharam mengadakan haul Kanjeng Bu Mas yang menjadi cikal bakal desa," tutupnya. (fik/war)
Editor : Abdul Rokhim