JEPARA - Hampir seminggu keberadaan gas di Kabupaten Jepara langka. Sejumlah warga di Jepara memanfaatkan pawon untuk memasak.
Keberadaan gas yang langka terjadi merata di wilayah Kabupaten Jepara. Terutama di wilayah utara seperti Kecamatan Bangsri, dan Kembang.
Tak hanya gas melon 3 Kg, masyarakat sulit mendapatkan gas 12 Kg dan Bright Gas 5,5 Kg.
Revangga, warga Desa Kancilan, Kembang, Jepara, mengaku memanfaatkan pawon di rumahnya sepekan ini atau sejak gas sulit didapat.
"Di rumah masih ada pawon. Akhirnya pakai pawon dulu karena sulit cari gas," jelas Revangga.
Hal yang sama dialami Kris, warga Desa Bondo, Bangsri.
Karena sulit mendapat gas melon dalam seminggu ini, Ia memilih memanfaatkan pawon atau tungku di rumahnya.
"Ada gas sisa tapi tinggal sedikit. Jadi mending pakai pawon dulu karena orang tua masih punya pawon," jelasnya.
Ia mengaku sudah mencoba mencari gas 12 kilogram dan bright gas 5,5 kilogram. Namun hingga kini belum dapat.
Ia juga rela membeli gas melon seharga Rp 50 ribu bila ada yang jual.
Sempat beredar juga kabar ada orang berani menjual gas 3 Kg dengan harga fantastis, Rp 50 ribu.
Dari penelusuran wartawan Jawa Pos Radar Kudus, gas tersebut terjual karena kondisi dan kebutuhan yang mendesak.
Sementara itu, berdasarkan keterangan pangkalan di Bangsri, LPG dari pangkalan tidak pernah dijual lebih dari harga standar.
"Dari sini (gas 3 kilo) keluarnya mentok Rp 19 ribu paling mahal. Kalau sampai di atas itu mending saya suruh pergi," ujar salah satu pedagang gas di pangkalan.
Di tengah kelangkaan, warga beruntung mendapatkan harga gas melon dengan harga Rp 30 ribu.
Baca Juga: Diterjang Longsor Akibat Hujan Deras, Akses Utama Kajar-Lasem Rembang Lumpuh, Begini Penampakannya
Ini dapat dijumpai di wilayah Kecamatan Kalinyamatan, Kecamatan Jepara, dan Kecamatan Bangsri.
Terakhir, pemerintah setempat telah meminta warga untuk tenang karena Jepara telah mendapat stok tambahan hingga 30 ribu tabung.
Pemerintah melalui Pj Bupati Jepara Edy Supriyanta meminta warga untuk tidak membeli gas secara berlebihan dan panik.
Perwakilan Humas Pertamina Wilayah Jawa Tengah dan DIY, Thia mengatakan Pertamina hanya bisa menjamin harga sesuai dengan eceran tertinggi di tingkat pangkalan.
Alur distribusi resmi kami yaitu terminal LPG Pertamina, SPBE, Agen, lalu pangkalan.
"Dimana pangkalan adalah titik akhir kami untuk menjual kepada konsumen. Yang bisa kami pastikan semua pangkalan adalah menjual dengan Harga Eceran Tertinggi (HET)," jelasnya.
Area Manager Communication, Relations, & Corporate Social Responsibility (CSR) Regional Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga Brasto Galih Nugroho meminta agar masyarakat tidak panic buying.
Pertamina sejak Sabtu (16/3) dan dilanjutkan kemarin (17/3), mengoptimalkan pengiriman elpiji dari Rembang dan Semarang.
Konsumen tidak perlu khawatir terkait pasokan elpiji 3 Kilogram karena sedang dilakukan upaya recovery atau pemulihan.
Akibat cuaca dan banjir saat ini, penyaluran ke Kudus, Pati, dan Jepara per kemarin (17/3) melalui Rembang dan Semarang.
Sementara dari Semarang, dilakukan melalui jalur alternatif Alternatif Semarang ke Kudus yakni melewati Trengguli - Mijen - Welahan - Jepara - Kaliwungu - Kudus. Hal tersebut karena banjir Demak. (nib)
Editor : Ali Mustofa