JEPARA - Masyarakat sekitar Desa Tedunan, Karangaji, dan Kedungmalang Kecamatan Kedung masih saling tunggu satu sama lain terkait pembongkaran bangunan liar di kawasan bantaran sungai Serang Welahan Drainase (SWD) 2.
Banyak yang lebih milih menunggu hingga hari eksekusi dibanding membongkar mandiri.
Sementara itu, baru ada 18 persen bangunan liar yang sudah dibongkar.
Warga yang menghuni atas bantaran sungai mengaku pasrah bila diminta pindah.
Ada juga yang mengaku belum mendapat surat peringatan terkait penggusuran.
Asfan, warga sekitar salah satunya.
Sejak tahun 2022 ia menghuni gubuk kecil berdinding anyaman bambu di lokasi tersebut.
Belum lama ini ia mendapat informasi soal penggusuran bangunan liar, termasuk gubuk yang ia huni.
Ia sadar ia membangun di atas tanah bukan miliknya.
Namun, ia mengaku tidak tahu menahu soal surat peringatan dari pemerintah.
“Soal gusuran kula mpun ngertos (saya sudah tahu), tapi saya tidak dapat surat. Lainnya dapat surat peringatan kok saya tidak ya,” kata Asfan.
Ia juga tahu akan ada penggusuran nanti.
Soal itu, ia pasrah bila gubuknya digusur. Untuk tinggal dimana berikutnya ia tidak tahu.
“Ya dipikir nanti,” katanya.
Tak hanya yang memiliki hunian, warga yang memiliki ruko-ruko kecil sudah mulai membongkar mandiri bangunannya.
Seperti Hamidun, warga Karangaji, Kecamatan Kedung.
Ia mengaku telah membangun ruko untuk berjualan buah di kawasan sungai SWD 2 tersebut sejak 2 tahun lalu.
Ia mengaku membangun di lokasi bukan miliknya. (nib/war)
Editor : Ali Mustofa