Sebagai informasi, pameran mebel Internasional atau Jepara International Furniture Buyer Weeks (JIF-BW) telah dibuka secara resmi pada Minggu (6/3). Hadir secara langsung di Jepara Perwakilan Konsulat Jenderal Malaysia Sandi Katok. Selain memberi sambutan dalam acara, pihaknya ikut menyambangi showroom dan rumah produksi mebel.
Ia mengaku diutus langsung oleh atasannya di Malaysia untuk membangun networking yang baik dengan pengusaha mebel di Jepara. Ini juga tak terlepas dari mebel Malaysia yang sangat bergantung dengan kayu Indonesia.
“Kayu Malaysia sangat rentan dan tidak kuat, jelek. Seperti kayu akasia dan bekas pohon-pohon durian. Tidak seperti di Indonesia. Indonesia ini (kayunya) bagus dan potensial,” jelasnya.
Selain itu, ia menyebut pameran mebel Jepara ini karakternya khas. Terselenggara langsung di satu kota dengan satu kesatuan atau integrity.
Meski begitu, pihaknya menyesalkan akses transportasi ke pameran mebel. Menurutnya, perjalanan dari Semarang ke Jepara sangat lama.
“Pergi ke lokasi pameran dari Semarang tiga setengah jam itu sangat lama. Kemarin saya dari Semarang ke Jepara aja 3,5 jam. Itu berat, susah. Kedepannya tidak akan bisa (seperti itu). Coba sesama pemerintah daerah khususnya di Jawa Tengah bagaimana menghubungkan transportasi satu sama lain,” jelasnya.
Ia menilai, transportasi menjadi elemen penting dalam pembangunan ekonomi. “Transportasi adalah urat nadi ekonomi suatu negara. Negara atau kota tidak akan maju kalau transportasinya jelek,” jelasnya.
Jamhari, Steering Committee JIFBW juga menyampaikan hal serupa. Beberapa buyer mengeluhkan transportasi menuju pameran. Terkait masukan soal transportasi, Jamhari mengatakan perwakilan tersebut akan menyampaikan usulannya kepada pemerintah pusat dan kementrian terkait.
Selain respon dari Konsulat Jenderal Malaysia, pihaknya juga telah menerima respon dari Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Sao Paulo.
“Informasi terkait pameran sudah diterjemahkan dalam bahasa Portugis oleh mereka dan sudah diedarkan ke kalangan bisnis di sana,” jelas Jamhari. (nib) Editor : Abdul Rokhim