Sebelumnya, Mangunsarkoro Street dalah sebuah acara rutin yang diinisiasi oleh Kelurahan Panggang sepekan sekali. Pada hari Minggu pagi mulai pukul 06.00 hingga pukul 10.00. Pedagang berjualan beragam hal mulai dari makanan asli Jepara seperti adon-adon coro, makanan untuk sarapan, berbagai minuman es, pakaian, dan kerajinan asli Jepara. Berlokasi di Kelurahan Panggang, jalan Mangunsarkoro.
Sementara kemarin, sekaligus meresmikan batik Jepara motif Wuni. Batik ini terinspirasi dari buah wuni. Di masa silam buah wuni kerap digunakan sebagai bahan rujak, rasanya asam. Meski begitu buah tersebut mengandung banyak vitamin dan bisa meningkatkan stamina tubuh. “Sekarang tanamannya termasuk langka, saya termasuk yang ingin melestarikan tanaman itu,” kata Suyanti Jatmiko perajin batik Jepara dan yang mempopulerkan batik ini.
Suyanti juga menunjukkan tanaman wuni yang ia peroleh dari Pendapa Jepara dan ia rawat di depan rumahnya.
Lurah Panggang, Solichin mengatakan, buah wuni sebagai motif artinya ada harapan warganya bisa makmur dan sejahtera. “Buah wuni walaupun sangat kecil, tapi nilainya tinggi. Memiliki antioksidan yang sangat tinggi. Semoga harapannya bisa makmur sejahtera, bisa mendunia dan terkenal,” jelasnya.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jepara Haizul Ma’arif yang hadir berharap agar batik panggang dapat eksis dan lestari. Pihaknya menambahkan, selama ini DPRD Jepara juga kerap mengenakan batik sebagai dukungan kepada UMKM dan pengrajin batik yang ada di Jepara.
Penjabat (PJ) Bupati Edy Supriyanta yang juga hadir mendukung penuh kegiatan tersebut. “Selamat dan sukses, MSS yang jalan empat bulan ini layak kita dukung agar bisa selalu eksis,” ujarnya lalu melaunching secara resmi Batik Wuni. (nib/war) Editor : Ali Mustofa