Rencananya, upacara itu digelar sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Yakni Rabu (2/3) mendatang. Dalam hal itu, ada empat air suci yang diambil. Salah satunya di Pantai Bandengan, Jepara. Dan tiga lainnya ada di Desa Plajan, Pakisaji. Yakni di Belik Sumur, Belik Nangka, dan Sendang Guwolangger. Nanti air dari empat sumber itu, dijadikan satu dan dipakai saat upacara mecaru.
Dalam upacara Melasti kemarin, diikuti sekitar 30 orang. ”Sedianya diikuti 250 peserta, tapi karena adanya edaran dari Tim Satgas Covid-19, maka pesertanya dibatasi,” ujar Ketua Parisada Hindu Dharma Jepara Parsini kemarin.
Kegiatannya dimulai sekitar pukul 08.30. Diawali dengan para peserta yang berarakan dari tempat parkir hingga tempat peribadatan. Parsini menjelaskan, saat sebelum pandemi, saat arak-arakan umat sembari membawa banten atau sesajen menuju lokasi peribadatan dengan diiringi alunan tarian dan gamelan. Hanya, sudah tiga tahun ini prosesi itu tak ada.
Upacara melasti merupakan rangkaian kedua yang dijalani umat Hindu sebelum menggelar Catur Brata Penyepian. Jumat (25/2) lalu, dilakukan bakti sosial dan donor darah. Juga pembersihan tempat ibadah di umat Hindu di Pakisaji.
Setelah Melasti, rangkaian ketiga yaitu mecaru. Dan terakhir ada shima krama. ”Atau dalam Islam dikenal halalbihalal. Rencananya dilaksanakan akhir Maret,” papar Parsini.
Di ujung prosesi melasti dilakukan larung sesaji ke laut. Isinya berupa hasil bumi dan hewan ternak. Ada ayam dan mentog. Setelah itu, baru dilanjut pengambilan air suci. (lin) Editor : Ali Mustofa