Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jakarta dan Semarang: Dua Kota dengan Penurunan Tanah Paling Mengkhawatirkan

Anita Fitriani • Kamis, 7 Mei 2026 | 08:58 WIB
Jakarta dan Semarang terancam tenggelam akibat penurunan tanah
Jakarta dan Semarang terancam tenggelam akibat penurunan tanah

 

 

 

 

RADAR KUDUS — Jakarta dan Semarang tercatat sebagai dua kota di Indonesia dengan penurunan tanah yang paling signifikan dan cepat.

Informasi terbaru mengenai pemantauan menunjukkan bahwa penurunan permukaan tanah di bagian utara Jakarta mencapai 5,76 sentimeter per tahun di beberapa area.

Sementara itu, di Semarang, penurunan ini bahkan mencapai 9 sentimeter, hampir 10 sentimeter per tahun, terutama di lokasi-lokasi kritis seperti Genuk, Tanjung Mas, dan Kaligawe.

Penurunan tanah yang terjadi di Jakarta dan Semarang tergolong yang terakselerasi di antara kota-kota besar lainnya di Tanah Air.

Baca Juga: AHY: Giant Sea Wall Kunci Selamatkan Jakarta dan Semarang

Pakar dari Universitas Gadjah Mada, Heri Sutanta, mengungkapkan bahwa situasi di kedua kota tersebut berada dalam kondisi darurat, di mana penurunan tanah dipicu oleh penggunaan air tanah yang berlebihan dan melebihi batas pemulihannya.

Di Semarang, meskipun kenaikan permukaan air laut global hanya sekitar 3–5 milimeter per tahun, penurunan tanah mencapai 9 sentimeter, yang berarti penurunan ini 30 kali lebih besar daripada kenaikan air laut.

Penyebab utama bagi penurunan tanah yang signifikan adalah pengambilan air tanah secara besar-besaran.

Baca Juga: Satu Aplikasi, Banyak Layanan: SDGs Jadi Kunci Pelayanan Publik di Semarang

Peneliti Edvin Aldrian dari BRIN menyatakan bahwa penggunaan air tanah menjadi faktor utama yang menyebabkan penurunan permukaan tanah di Jakarta dan pesisir utara Jawa.

Data spesifik menunjukkan bahwa pengambilan air tanah yang berlebihan berkontribusi antara 74–82 persen dari keseluruhan penurunan tanah di Semarang, sedangkan sisanya 18–26 persen disebabkan oleh beban bangunan di daerah yang padat penduduk.

Baca Juga: Hati-hati! Nerobos Palang Kereta Bisa Dipenjara dan Kena Denda

Badan Geologi mengungkapkan bahwa Jakarta Utara dan Semarang adalah daerah dengan penurunan permukaan tanah yang lebih dari lima sentimeter setiap tahunnya, dengan lokasi yang paling parah terpantau di wilayah pesisir utara Jakarta serta di daerah Genuk, Tanjung Mas, dan Kaligawe di Semarang.

Keadaan ini semakin memburuk akibat struktur geologi di area pesisir yang didominasi oleh tanah liat muda yang masih dalam proses pemadatan alami.

Dampak yang langsung terlihat dari penurunan tanah yang parah ini cukup mencolok.

Posisi tanah di area pesisir Jakarta dan Semarang kini lebih rendah dibanding permukaan air laut, sehingga kedua kota sering mengalami banjir rob saat hujan deras.

Baca Juga: Update Haji RI 2026: 74 Ribu Jemaah Berhasil Tiba di Arab Saudi

Banjir rob meluas di Jakarta Utara, Kota Semarang, serta Kabupaten Demak yang berdekatan, mengancam jutaan penduduk yang bermukim di daerah tersebut.

Percepatan penurunan tanah juga meningkatkan risiko bagi infrastruktur, kawasan permukiman, dan kegiatan ekonomi di kedua kota ini.

Pakar UGM Menekankan Bahwa Penurunan Tanah di Jakarta dan Semarang Perlu Ditangani Secara Komprehensif

Para ahli di UGM menekankan bahwa penurunan tanah yang terjadi di Jakarta dan Semarang perlu dibahas dengan serius karena dampaknya yang luas dan jangka panjang.

Baca Juga: BI Luncurkan QRIS Antarnegara Indonesia-China, Belanja di China Kini Praktis Pakai QRIS

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa memicu perubahan pada garis pantai, kerusakan besar pada infrastruktur, dan ancaman tenggelamnya sebagian wilayah pesisir di kedua kota tersebut.

Diperlukan solusi jangka pendek dan jangka panjang, termasuk pengawasan ketat terhadap pengambilan air tanah, pembangunan infrastruktur pengendali banjir, dan beralih ke sumber air alternatif yang berkelanjutan.

Keadaan penurunan tanah yang parah di Jakarta dan Semarang adalah bencana lambat yang sedang terjadi.

Tanpa tindakan yang nyata dan terkoordinasi, dua kota besar ini akan terus mengalami penurunan signifikan pada elevasi tanah, meningkatkan risiko terhadap banjir rob, serta mengancam kelangsungan hidup penduduk pesisir dalam jangka panjang. (*) 

Editor : Anita Fitriani
#penurunan tanah #semarang #berita semarang #jakarta #air laut