SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang memanfaatkan perayaan Hari Jadi ke-479 untuk tidak hanya merayakan, tetapi juga memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah dan pelestarian budaya kuliner lokal.
Melalui serangkaian acara HUT ke-479 yang dimulai pada 14 April 2026 hingga 2 Mei 2026, Pemkot Semarang mengusung tema “berbagi” dengan berbagai program layanan gratis dan inovasi yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat di banyak kelurahan dan kawasan umum.
Di tengah usaha besar untuk meningkatkan layanan dasar dan kesehatan, Pemkot juga meluncurkan program menarik yang memikat perhatian warga, program “Tukar Botol Dapat Lumpia”.
Baca Juga: Hari Jadi Kota Semarang ke‑479, Wisatawan Bisa Masuk Semarang Zoo dengan Tarif Terjangkau
Program “Tukar Botol Dapat Lumpia” diciptakan sebagai bagian dari kampanye yang menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan penguatan identitas kuliner Semarang.
Warga diberikan kesempatan untuk menukarkan botol plastik bekas dengan voucher lumpia gratis, asalkan mereka membawa botol yang telah dibersihkan dan mengantarkannya ke bank sampah terdekat.
Program ini secara resmi dilaksanakan dalam dua tahap, dengan tahap pertama berlangsung dari 26 hingga 30 April 2026, dan tahap kedua memfasilitasi warga untuk menukarkan voucher tersebut dengan lumpia di gerai atau pusat lumpia yang telah bermitra dengan Pemkot.
Baca Juga: Karnaval Paskah 2026 di Semarang Sukses Digelar dengan Meriah dan Ramai Penonton
Limbah yang sebelumnya dianggap tidak berharga diubah menjadi barang yang bisa dinikmati sebagai makanan khas Semarang.
Pemkot Semarang menyatakan bahwa program ini bukan hanya sekadar gimmick, melainkan langkah strategis untuk membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Selain itu, inisiatif ini juga bertujuan untuk memperkuat citra Semarang sebagai kota yang ramah lingkungan sekaligus sebagai pusat kuliner yang menghargai produk-produk UMKM lokal, terutama para pelaku usaha lumpia yang tersebar di lokasi-lokasi seperti Jalan Pandanaran, Kampung Wisata Kuliner, dan area pesisir.
Dengan cara ini, masyarakat diajak untuk mengurangi limbah plastik sambil turut berkontribusi terhadap perkembangan ekosistem ekonomi kreatif dan UMKM saat perayaan HUT ke-479.
Pola yang sama telah diterapkan dalam program lingkungan lainnya di HUT ke-479, contohnya program penukaran botol bekas dengan bibit tanaman atau produk ramah lingkungan, yang juga menjadi “hadiah” bagi warga.
Baca Juga: Pemkot Semarang Fokus Pulihkan Korban Pembakaran Remaja Perempuan oleh Paman
Kombinasi insentif berbasis konsumsi (lumpia) dan insentif hijau (bibit tanaman) menunjukkan bahwa Pemkot berupaya menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari siswa dan keluarga muda hingga orang dewasa dan lansia.
Program-program ini juga diperkuat melalui kampanye komunikasi publik seperti “Semarang Wegah Nyampah” yang sejak awal mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan membangun kesadaran bersama terhadap limbah.
Dalam perayaan HUT ke-479, program “Tukar Botol Dapat Lumpia” menjadi simbol kerjasama harmonis antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.
Warga tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai agen perubahan yang aktif mengumpulkan dan mengelola limbah plastik, lalu menikmati keberhasilan melalui kuliner khas kota.
Pelaku usaha lumpia mendapatkan kesempatan untuk memperluas pangsa pasar dan memperkuat merek lokal, sekaligus berkontribusi pada kampanye lingkungan yang lebih luas.
Sebagai bagian dari seri "17 kado istimewa" bagi masyarakat, program pertukaran botol plastik dengan lumpia melengkapi berbagai kebijakan lain, termasuk potongan harga untuk penyambungan air bersih, layanan air tangki tanpa biaya, diskon untuk layanan pengangkutan tinja, layanan administrasi kependudukan, peluang kerja, serta pameran ekonomi kreatif.
Dengan begitu, peringatan hari jadi ke-479 Kota Semarang tidak hanya berfokus pada parade dan pertunjukan hiburan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat keberlanjutan lingkungan, peningkatan ekonomi kecil, dan penguatan identitas kota sebagai pusat budaya dan kuliner yang berkelanjutan. (*)
Editor : Anita Fitriani