SEMARANG - Kenaikan harga plastik akhir-akhir ini mulai menjadi pembicaraan dan perhatian masyarakat saat ini. Jika kita selidiki lebih dalam, kenaikan harga plastik ini berpengaruh pada kondisi ekonomi di Indonesia.
Kenaikan harga ini disebabkan dari Konflik Timur Tengah yang memanas. Konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran mengakibatkan rasa khawatir pada perdagangan global, termasuk Indonesia.
Lonjakan harga plastik terjadi disebabkan oleh naiknya harga minyak dan gas alam, yang dipengaruhi oleh ancaman terhadap rute distribusi energi di Selat Hormuz. Selat Hormuz adalah jalur energi paling penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas cair dunia.
Harga minyak mentah tercatat meningkat dari 67 dolar AS per barel menjadi lebih dari 98 dolar AS pada puncaknya di bulan Maret. Di Asia dan Eropa, harga gas alam juga meroket lebih dari 60 persen selama periode yang sama.
Kenaikan ini bukan tanpa alasan, melainkan disebabkan oleh gangguan dalam pasokan bahan baku global yang langsung memengaruhi industri di dalam negeri.
Baca Juga: Kebutuhan LPG Melonjak, Indonesia Impor 83,97 Persen
Menteri Perdagangan Budi Santoso telah menyatakan bahwa kenaikan harga plastik diakibatkan oleh konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan nafta, salah satu bahan baku utama untuk plastik. Ia mengakui bahwa banyak masyarakat yang mengeluhkan kenaikan harga plastik dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, ini merupakan dampak dari konflik Iran-AS, karena nafta, salah satu bahan baku plastik, diimpor dari kawasan Timur Tengah.
Lonjakan harga plastik membebani salah satu pedagang plastik di Pasar Sampangan, Semarang.
Arifin, Pedagang plastik di Pasar Sampangan Semarang mengungkapkan kebingungannya atas harga plastik yang melambung tinggi. “Aduh, mumet mba, bingung harga plastik naik kabeh,” ucap Arifin saat ditemui di kios di Pasar Sampangan, Selasa (7/4/2026).
Arifin mengungkapkan bahwa semua harga plastik mengalami kenaikan, kotak makan berbahan kardus pun ikut naik tetapi tidak berasa, hanya sekitar Rp25 tidak sampai Rp100.
"Itu ndak begitu terasa. Paling kalau per apa-apa kan biasanya paling naiknya sekitar Rp25, paling kurang sampai 100. Soalnya kalau ini sampai 100 kan tinggi banget naiknya", ucap Arifin.
Baca Juga: Ada Perbaikan, Akses ke Jalan Gombel Lama Semarang Ditutup, Warga Diminta Gunakan Jalan Gombel Baru
Menurut Arifin harga plastik yang paling naik adalah plastik kiloan. Sebelumnya Arifin menjual plastik kiloan dengan harga Rp28.000, kemudian saat ini Arifin menjual dengan harga Rp50.000 per 1 kg. Arifin mengatakan misalnya pergi untuk kulakan (beli grosir) saat pagi, kemudian di sore hari harganya sudah beda.
"Kalau jual per biji, jual 10 biji itu biasane saya kalau jual untuk bakul itu Rp28.000, sekarang Rp50.000, Ibaratnya harga pagi itu, umpama kulakannya pagi, terus sore itu harganya udah beda lagi," ucap Arifin.
Untuk harga mika juga ikut mengalami kenaikan namun tidak begitu banyak. "Mika sementara ya naik cuma ndak begitu banyak lah, ikut naik tapi ndak seperti plastik tadi," ucap Arifin.
Arifin juga menjelaskan masih bisa memperoleh keuntungan dari penjualan stok lama yang dibeli dengan harga kulakan sebelum kenaikan, namun begitu stok habis dan harus kulakan lagi, harga beli sudah lebih mahal sehingga keuntungan menyusut meskipun pedagang menjual dengan harga sama bakul (distributor), harga beli yang tinggi membuat jarak antara harga beli dan jual semakin sempit, sehingga kenaikan harga plastik tidak otomatis membuat pedagang lebih untung dalam jangka panjang.
Baca Juga: Mulai 4 Mei 2026, BNI Resmi Hentikan Layanan Internet Banking Secara Permanen
"Kalau untuk penjualan pas kita kulakan masih bisa, cuma untuk kulakan besok lagi gabisa. Umpama kita jual di harga kemarin kulakan gabisa. Kita jual di harga sama bakul itu udah beda lagi harganya," ucap Arifin.
Saat harga plastik mengalami kenaikan, jumlah pelanggan tetap banyak dan tidak berkurang, namun Arifin tidak enak untuk menjelaskan. "Masih tetap cuma ya itu, kita kan mau menjelaskan sama yang beli kan kadang ndak enak," ucap Arifin
Untuk harga cup gelas pun mengalami kenaikan. "Harga cup gelas-gelas ngeri juga, ya beda merk beda harga sih cuma yang lebih tinggi ya banyak cuma kan kita menyesuaikan kulakannya juga sih, sekarang paling murah di Rp20.000, di atas 20 lah isinya 50 cuma kan ukurannya itu sih ya 22 sama 18 itu, ya di atas 20, dibawah 25," imbuhnya.
Ia menyebut harga kenaikan pada gelas cup berbeda-beda bergantung pada merek, untuk isi 50 sekitar harga di atas Rp20.000 dan ada juga yang di bawah Rp25.000 bergantung ukurannya.
Di tengah konflik Timur Tengah yang membuat kenaikan harga plastik, Arifin menyampaikan harapan agar harga plastik bisa turun dan normal kembali. Arifin mengatakan kasihan dan tidak enak untuk menjelaskan kepada pembeli.
"Harapannya ya bisa turun gitu sama bisa normal juga biar kita semua enak, kan sama yang ngecer kan kasihan maksute ki ndak enak juga, " tutup Arifin saat ditemui di Pasar Sampangan, Semarang. (An)
Editor : Anita Fitriani