Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kisah Pilu di Kendal! Dua Pekan Tak Makan, Dua Kakak Beradik Hidup dengan Jasad Ibu yang Membusuk

Ali Mustofa • Selasa, 4 November 2025 | 17:17 WIB
PATUH PADA IBU: Gadis asal Desa Bebengan, Kendal, menjalani perawatan intensif di RS PKU Muhammadiyah Boja karena dehidrasi dan kekurangan gizi.
PATUH PADA IBU: Gadis asal Desa Bebengan, Kendal, menjalani perawatan intensif di RS PKU Muhammadiyah Boja karena dehidrasi dan kekurangan gizi.

KENDAL — Rumah Setianingsih, janda dengan dua anak Perempuan, menorehkan kisah memilukan.

Rumah itu berdiri di ujung gang kecil, di Dukuh Somopuro, Desa Bebengan, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal.

Pintu kayu tertutup rapat. Tak ada suara, tak ada tanda kehidupan. Tapi bau busuk yang menyengat membuat warga tak lagi bisa menahan curiga.

Sabtu (1/11) sore itu, belasan warga akhirnya sepakat mendobrak pintu rumah janda dua anak itu. Dan yang mereka temukan di dalam, membuat semua bergeming.

Di ruang tengah, dua gadis muda terbaring lemah. Tubuh mereka kurus kering, nyaris tak mampu bicara.

Sedangkan di kamar sebelah, jasad sang ibu sudah membusuk. Dikerubuti lalat. Diperkirakan sudah lebih dari dua pekan meninggal.

Kedua gadis itu adalah Putri Setia Gita Pratiwi, 23, dan adiknya Intan Ayu Sulistyowati, 18.

Kakak beradik yang selama hampir sebulan mengurung diri di rumah bersama jenazah ibu mereka, Setyaningsih, 51.

Menurut Kepala Desa Bebengan Wastoni, penemuan itu bermula dari kecurigaan warga sekitar.

Rumah Setyaningsih beberapa pekan terakhir selalu tertutup rapat. Tak ada aktivitas, tak terdengar suara.

“Namun warga mencium bau tidak sedap. Bahkan, di kaca jendela banyak lalat menempel, ” tuturnya.

Saat pintu didobrak, warga mendapati pemandangan yang mengiris hati. Putri masih sadar, tapi tak mampu bergerak.

Sementara Intan, adiknya, sudah tak sadarkan diri. Bau menyengat berasal dari jasad sang ibu yang sudah membusuk di dalam kamar. Warga segera mengevakuasi dua gadis itu ke RS PKU Muhammadiyah Boja.

Sedangkan jenazah Setyaningsih dimakamkan malam itu juga, dalam peti sederhana, dimandikan sekadarnya.

“Selama ini, keluarga itu hidup cukup. Ada kiriman uang dari perusahaan kelapa sawit tempat suaminya dulu bekerja di Kalimantan,” kata Wastoni.

Namun beberapa bulan terakhir, kiriman itu berhenti. Tanpa diketahui warga, ekonomi keluarga jatuh. Putri kemudian mengaku, sejak awal Oktober mereka sudah kehabisan uang.

Tak makan apa pun sejak tanggal 4 Oktober. Hanya minum air putih. Hingga sang ibu mengembuskan napas terakhir pada 13 Oktober.

“Ibu berpesan, jangan minta tolong ke tetangga. Aku disuruh nurut,” lirih Putri saat ditemui di rumah sakit.

Dan ia benar-benar menuruti pesan itu. Mengunci rumah, bahkan mengganjal pintu dengan kursi agar tak ada yang masuk.

Selama dua pekan setelah sang ibu meninggal, Putri dan Intan tetap tinggal di dalam rumah bersama jasad itu. Hanya minum air putih. Tak makan, tak keluar, tak bicara pada siapa pun.

Dokter RS PKU Muhammadiyah Boja, Arfa Bima Firizqiana, mengatakan keduanya mengalami dehidrasi berat dan kekurangan gizi akut.

“Namun daya tahan tubuh mereka cukup baik, sehingga bisa tertolong,” ujarnya. Kini kondisi keduanya mulai membaik. Tapi trauma di balik kisah itu tak akan hilang cepat.

“Untuk pulih, kira-kira butuh waktu satu pekan dengan perawatan, pemberian obat dan vitamin,” katanya. 

Editor : Ali Mustofa
#sang ibu #meninggal #kendal #mengurung diri