Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tiga Sekolah Swasta di Semarang Tolak Program Makanan Bergizi Gratis, Apa Alasannya?

Ali Mustofa • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 18:49 WIB
VIRAL : foto makanan bergizi gratis yang dibagikan pada penerima manfaat.
VIRAL : foto makanan bergizi gratis yang dibagikan pada penerima manfaat.

 

SEMARANG - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Semarang menyebut ada tiga sekolah swasta yang memutuskan menolak program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Penolakan ini, muncul setelah mayoritas orang tua siswa menyatakan keberatan terhadap kualitas makanan yang didistribusikan melalui program tersebut setelah banyaknya kasus keracunan di berbagai daerah.

Ketua PGRI Kota Semarang, Nur Khoiri menyebut, penolakan terhadap MBG bukan keputusan sepihak sekolah, melainkan hasil jajak pendapat dengan wali murid.

“Ada tiga sekolah swasta yang menolak, untuk detailnya maaf tidak bisa saya sebutkan,” katanya, Jumat (3/10).

Dia menjelaskan, penolakan ini dilakukan karena mayoritas orang tua tidak setuju setelah dilakukan polling.

“Pihak sekolah melakukan polling, mayoritas dari mereka tidak setuju,” tegasnya.

Khoiri menilai, banyaknya kasus keracunan MBG di berbagai daerah belakangan ini menimbulkan kekhawatiran orang tua.

Mereka bahkan meminta sekolah swasta untuk tidak menerima program tersebut.

Menurut Khoiri, orang tua siswa merasa lebih yakin dengan makanan yang dikelola langsung oleh sekolah, seperti melalui kantin sehat, dibandingkan katering dari luar.

“Beberapa sekolah swasta punya kantin sehat. Jadi orang tua lebih percaya kalau makanan dikelola oleh sekolahnya sendiri,” tambahnya.

Prinsipnya, PGRI Kota Semarang mendukung program pemerintah pusat tersebut.

Namun, dia berpandangan ada satu kelemahan dalam sistem pengawasan terhadap distribusi MBG ke sekolahan.

“Mungkin perlu diperketat pengawasan dan distribusinya,” katanya.

Khoiri juga tidak sepakat dengan wacana guru dijadikan tester makanan MBG. Dia menilai langkah tersebut berbahaya dan berisiko menimbulkan masalah baru bagi guru.

“Guru jangan sampai dijadikan tester. Cukup dilakukan pemeriksaan sederhana, seperti dilihat, dicium atau diraba. Kalau ada yang mencurigakan, langsung lapor,” imbuhnya.

Sebagai solusi terhadap distribusi MBG, dia mengusulkan pelibatan komite sekolah atau orang tua dalam proses pengawasan.

Dengan begitu, guru dapat tetap fokus pada tugas utama mereka yaitu mengajar.

“Pengawasan MBG sebaiknya melibatkan komite sekolah biar guru fokus mengajar. Komite bisa memastikan makanan yang masuk ke sekolah aman untuk anak-anak mereka,” pungkasnya.

Editor : Ali Mustofa
#wali murid #semarang #keracunan #siswa #sekolah #program mbg