RADAR KUDUS - Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan dengan 26 kali guguran lava dan satu kali awan panas guguran yang teramati meluncur ke arah barat daya, tepatnya menuju Kali Bebeng.
Jarak luncur maksimum guguran lava mencapai 1.700 meter, sementara awan panas meluncur sejauh 1.200 meter.
Laporan ini disampaikan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) berdasarkan pengamatan pada Sabtu, 31 Agustus 2024, dari pukul 00.00 hingga 24.00 WIB.
Gunung Merapi, yang memiliki ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut, terletak di perbatasan Kabupaten Sleman, Yogyakarta, serta Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten di Jawa Tengah.
Pada hari pengamatan, cuaca di sekitar Gunung Merapi bervariasi dari cerah, berawan, hingga mendung.
Angin bertiup lemah hingga sedang, dengan arah dominan ke barat, utara, dan timur.
Suhu udara berkisar antara 13 hingga 25 °C, kelembaban udara berada pada 49-99 persen, dan tekanan udara berkisar antara 836,7 hingga 918,7 mmHg.
Gunung Merapi terlihat cukup jelas dengan kondisi kabut ringan hingga sedang.
Asap kawah terpantau bertekanan lemah, berwarna putih, dengan intensitas tebal dan mencapai ketinggian 20 meter di atas puncak kawah.
Selain guguran lava dan awan panas, aktivitas seismik lainnya juga terdeteksi, termasuk kegempaan hybrid/fase banyak dan tektonik jauh.
Sejak 5 November 2020, tingkat aktivitas Gunung Merapi telah ditetapkan pada Level 3 atau Siaga. BPPTKG memberikan beberapa rekomendasi terkait potensi bahaya yang dapat ditimbulkan:
-
Potensi Bahaya Guguran Lava dan Awan Panas
Potensi bahaya saat ini meliputi guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya, termasuk Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan jarak maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara, bahaya meliputi Sungai Woro hingga 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km. Lontaran material vulkanik akibat letusan eksplosif berpotensi mencapai radius 3 km dari puncak. -
Suplai Magma Masih Berlangsung
Data pemantauan menunjukkan suplai magma terus berlanjut, yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. -
Larangan Aktivitas di Zona Bahaya
Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apapun di dalam daerah potensi bahaya yang telah ditetapkan. -
Kewaspadaan terhadap Bahaya Lahar dan Awan Panas
Masyarakat di sekitar Gunung Merapi diimbau untuk waspada terhadap bahaya lahar dan awan panas guguran (APG), terutama saat hujan terjadi di wilayah sekitar gunung. -
Antisipasi Dampak Abu Vulkanik
Masyarakat juga diingatkan untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik yang dapat terjadi jika Gunung Merapi mengalami erupsi. -
Pemantauan Aktivitas Gunung Merapi
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, BPPTKG akan segera meninjau kembali dan menyesuaikan tingkat aktivitas Gunung Merapi.
Masyarakat di sekitar Gunung Merapi diharapkan tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang untuk memastikan keselamatan bersama. (ury)
Editor : Ali Mustofa