SEMARANG — Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Razin berkunjung ke kantor Jawa Pos Radar Semarang di Jalan Veteran, Kota Semarang, Kamis (1/8).
Kunjungan tersebut dalam rangka saling kenal dan menguatkan kerja sama dengan media mainstream di Kota Semarang.
Tak sendiri, pria yang akrab disapa Gus Rozin itu, didampingi oleh Wakil Ketua PWNU Ahmad Zaki Fuad, Sekretaris Ahmad Fatkhur Rohman, Ketua Lembaga Ta'lif Wan Nasyr (Kominfo) Samsul Huda, dan beberapa staf lain.
Rombongan PWNU Jateng disambut hangat Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi, Pemimpin Redaksi Pratono, Manajer Keuangan Indah Fajarwati, Manajer Bisnis Sugiyanto, Manajer Pemasaran Muhammad Zaenuri, Redaktur Pelaksana Rizal Kurniawan, Pemimpin Redaksi Radar Magelang Arif Riyanto, Kepala Biro Magelang Lis Retno, Kepala Biro Pekalongan Ida Nor Layla, Redaktur Miftakul Akla, Reporter Budi Setyawan, dan lainnya.
Diketahui, Gus Rozin merupakan ketua terpilih usai dilangsungkan Konferensi Wilayah (Konferwil) PWNU Jateng pada Maret 2024 di Pekalongan.
Beberapa pekan terakhir, dirinya santer bersilaturahmi ke sejumlah media besar untuk bersinergi dan menjajaki kerja sama terkait program-program pemberdayaan PWNU di bawah kepemimpinannya. Secara resmi, Gus Rozin bakal dilantik pada Sabtu (3/8) besok.
”Sebenarnya pelantikan sifatnya simbolis dan hanya formalitas. Secara de facto, kami sudah bekerja setelah terpilih menjadi pengurus baru," ujar Gus Rozin saat berbincang-bincang dengan jajaran manajemen Jawa Pos Radar Semarang.
Baehaqi juga sempat penasaran terkait tenggang waktu pelantikan yang cukup lama dengan Konferwil yang telah rampung Maret lalu. Menurut Gus Rozin, ada beberapa faktor yang menyebabkan jarak pelantikan dengan Konferwil cukup memakan waktu.
Di antaranya, transisi kepemimpinan NU punya proses yang cukup panjang. Selain itu, dipengaruhi oleh perayaan keagamaan seperti puasa, Idul Fitri, dan dilanjutkan dengan haji.
”Terlebih sekarang PWNU banyak diisi kalangan muda dengan harapan makin dinamis dan progresif. Meski begitu, ada juga yang tua. Jadi komposisi kepengurusan muda tua dibutuhkan, agar ngegas dan ngeremnya itu ada," paparnya.
Menariknya, era kepemimpinan Gus Rozin saat ini dalam menyusun kepengurusan tanfidziyah di lembaga dilakukan rekrutan secara terbuka.
Yakni mengundang dan menjaring kader terbaik untuk berkhidmat menjadi volunteer di NU.
Itu merupakan suatu mekanisme baru yang diuji coba dan dievaluasi bersama, agar menjadi daya dorong NU.
”Banyak yang ingin masuk dan aktif ke PWNU Jateng. Total peminatnya banyak sekali. Ada 600, baik di bidang pendidikan, kesehatan, pertanian, ekonomi, hingga teknologi," jelas Gus Rozin.
Di bawah kepemimpinannya, Gus Rozin bertekad membawa NU dengan satu kata kunci, yakni ”pemberdayaan”.
Pemberdayaan yang dimaksud, pemberdayaan terhadap organisasi maupun jamiyahnya. Terutama mempermudah akses kesehatan bagi warga NU dengan cara menyediakan faskes hingga tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC) NU.
”Kami juga menyiapkan SDM (sumber daya manusia) yang memfasilitasi ini. Alhamdulillah rekrutmen banyak dari dokter, perawat, dan manajemen kesehatan," tuturnya. (mia/ton/lin)
Editor : Abdul Rokhim