RADAR KUDUS – Meksiko dilanda gelombang kekerasan setelah operasi penangkapan Nemesio Oseguera Cervantes alias El Mencho memicu baku tembak sengit dan kerusuhan di sejumlah wilayah.
Situasi di beberapa kota dilaporkan lumpuh, dengan aksi pembakaran kendaraan, penutupan jalan, hingga serangan terhadap fasilitas publik.
Nama El Mencho bukan sosok asing dalam dunia kejahatan terorganisasi. Ia dikenal sebagai pemimpin Cartel Jalisco Nueva Generacion (CJNG), salah satu kartel narkoba paling kuat dan brutal di Meksiko dalam satu dekade terakhir.
Dari Anak Petani hingga Raja Kartel
Berdasarkan berbagai laporan media internasional seperti BBC dan Reuters, El Mencho lahir dari keluarga petani alpukat miskin di wilayah Aguililla, negara bagian Jalisco.
Ia putus sekolah sejak dini dan membantu orang tuanya bekerja di kebun. Pada usia remaja, ia mulai terlibat dalam aktivitas kriminal.
Beberapa tahun kemudian, ia berimigrasi secara ilegal ke Amerika Serikat dan terlibat dalam berbagai tindak kejahatan, termasuk kepemilikan senjata ilegal dan perdagangan narkotika.
Setelah beberapa kali keluar-masuk penjara, ia akhirnya dideportasi kembali ke Meksiko pada usia sekitar 30 tahun.
Sekembalinya ke tanah air, ia sempat bergabung dengan kepolisian lokal di Jalisco. Namun, karier tersebut tidak berlangsung lama.
Ia kemudian terjun penuh ke dunia kartel dan bergabung dengan Kartel Milenio, yang kemudian terpecah dan melahirkan kelompok-kelompok baru, termasuk CJNG yang dipimpinnya.
Di bawah kepemimpinan El Mencho, CJNG berkembang menjadi organisasi paramiliter yang sangat terorganisasi.
Kartel ini memiliki persenjataan canggih, termasuk senapan sniper kaliber .50, kendaraan lapis baja rakitan yang dikenal sebagai “narco tank”, hingga penggunaan drone peledak untuk menyerang musuh dari udara.
Selain kekuatan militer, CJNG juga dikenal memanfaatkan propaganda digital. Mereka memiliki jaringan media sosial untuk menyebarkan video intimidasi dan kekerasan demi menebar ketakutan serta menunjukkan dominasi terhadap rival dan aparat keamanan.
Peran CJNG dalam distribusi narkotika global, khususnya fentanil ke Amerika Serikat, membuat El Mencho menjadi buronan prioritas.
Pemerintah AS bahkan menawarkan hadiah hingga 10 juta dolar AS untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya.
Operasi Gabungan dan Titik Lemah
Operasi penangkapan El Mencho dilakukan dalam skala besar di negara bagian Jalisco. Pemerintah Meksiko mengerahkan ribuan personel gabungan dari militer dan Garda Nasional, didukung helikopter tempur Black Hawk. Operasi ini juga melibatkan dukungan intelijen dari Amerika Serikat.
Selama bertahun-tahun, El Mencho dikenal sangat tertutup dan sulit dilacak, bersembunyi di wilayah pegunungan Sierra Madre.
Namun, intelijen disebut menemukan celah ketika ia terdeteksi meninggalkan lokasi persembunyian untuk bertemu seorang perempuan bernama Guadalupe Moreno di kota kecil Tonaya.
Melalui pelacakan komunikasi dan pola pergerakan, aparat akhirnya mengidentifikasi lokasi persembunyian di sebuah rumah aman terpencil.
Baku Tembak dan “Narcobloqueos”
Pada 21 Februari 2026, pasukan keamanan mengepung Tonaya. Namun, operasi tersebut tidak berjalan mulus. Pengawal elit CJNG melakukan perlawanan sengit dengan senjata berat dan granat.
Secara bersamaan, kartel mengaktifkan taktik “narcobloqueos” — pembajakan dan pembakaran kendaraan sipil di jalan-jalan utama untuk memblokir akses militer.
Kota-kota di Jalisco, Colima, dan Michoacan dilaporkan lumpuh. Bandara dan kantor polisi menjadi sasaran serangan.
Setelah baku tembak intens, El Mencho dilaporkan terluka parah dan berhasil ditangkap hidup-hidup sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia dalam perawatan medis di rumah sakit militer di Mexico City. Pemerintah Meksiko kemudian mengonfirmasi kematiannya dalam pernyataan resmi.
Dampak dan Ketidakpastian
Kematian El Mencho memicu aksi balasan dari anggota kartel di berbagai wilayah. Fasilitas umum menjadi target, dan situasi sempat mencekam sebelum perlahan dapat dikendalikan aparat.
Meski demikian, banyak analis skeptis bahwa tewasnya satu pemimpin akan mengakhiri kekerasan kartel di Meksiko.
Pengalaman sebelumnya dengan tokoh seperti El Chapo menunjukkan bahwa kematian atau penangkapan bos kartel kerap memicu perebutan kekuasaan internal yang berdarah.
CJNG diperkirakan menghadapi potensi konflik internal antara faksi keluarga dan komandan lapangan bersenjata.
Jika tidak ada suksesi yang solid, fragmentasi organisasi bisa terjadi. Kartel dapat terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih sulit dikendalikan dan berpotensi meningkatkan kejahatan seperti penculikan, pemerasan, hingga pencurian minyak.
Implikasi bagi Amerika Serikat
Bagi pemerintah Amerika Serikat, kematian El Mencho dapat dipandang sebagai kemenangan simbolis dalam perang melawan narkotika.
Namun secara praktis, sejumlah analis menilai dampaknya terhadap suplai narkoba ke AS kemungkinan terbatas.
Struktur kartel modern cenderung terdesentralisasi. Selama permintaan narkotika tetap tinggi, distribusi diperkirakan akan terus berjalan meski terjadi perubahan kepemimpinan.
Dengan demikian, meskipun era El Mencho telah berakhir, tantangan keamanan di Meksiko tampaknya masih jauh dari selesai.
Pertanyaan besar kini adalah apakah kematiannya akan menjadi titik balik menuju stabilitas—atau justru membuka babak baru kekerasan yang lebih kompleks. (*)
Editor : Mahendra Aditya