Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ali Larijani Ambil Alih Kendali: Strategi Iran Siaga Perang dan Rencana Bertahan Hadapi Tekanan AS

Mahendra Aditya Restiawan • Sabtu, 28 Februari 2026 | 19:03 WIB

demo berdarah Iran
demo berdarah Iran

RADAR KUDUS - Di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan gelombang protes domestik, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei disebut mempercayakan kendali strategis negara kepada sosok lama di lingkaran dalam kekuasaan: Ali Larijani.

Menurut laporan investigatif yang ditulis jurnalis senior Farnaz Fassihi di The New York Times, sejak awal Januari 2026 Larijani praktis memegang peran sentral dalam mengatur respons Iran terhadap ancaman eksternal maupun gejolak internal.

Ia kini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, posisi strategis yang mengoordinasikan kebijakan pertahanan, intelijen, hingga diplomasi tingkat tinggi.

Dari Krisis Politik ke Siaga Militer

Awal tahun ini, Iran menghadapi tekanan berlapis: demonstrasi besar di berbagai kota serta ancaman serangan dari Amerika Serikat, terutama setelah pemerintahan Presiden Donald Trump meningkatkan tekanan militer dan diplomatik di kawasan Timur Tengah.

Dalam situasi genting itu, Khamenei disebut mengandalkan Larijani—politikus veteran berusia 67 tahun yang juga mantan komandan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Sumber-sumber pejabat senior Iran yang diwawancarai menyebut, dalam beberapa bulan terakhir, Larijani bukan hanya mengoordinasikan keamanan dalam negeri, tetapi juga menyusun skenario jika perang benar-benar pecah.

Perannya bahkan disebut melampaui fungsi administratif.

Ia terlibat langsung dalam penanganan demonstrasi, menjaga stabilitas elite politik, serta mengamankan komunikasi dengan sekutu strategis seperti Rusia dan aktor regional seperti Qatar dan Oman.

Kebangkitan pengaruh Larijani berdampak pada berkurangnya sorotan terhadap Presiden Iran saat ini, Masoud Pezeshkian.

Presiden yang berlatar belakang dokter jantung itu dalam beberapa kesempatan mengakui keterbatasannya dalam mengelola kompleksitas politik nasional, bahkan pernah menyatakan secara terbuka bahwa dirinya “seorang dokter, bukan politikus.”

Kondisi tersebut mempertegas bahwa kendali kebijakan strategis—terutama terkait pertahanan dan keamanan nasional—berada di lingkaran dekat Pemimpin Tertinggi, dengan Larijani sebagai figur utama pelaksana.

Negosiasi Nuklir dan Ancaman Perang

Selain meredam gejolak dalam negeri, Larijani juga memegang kendali atas jalur diplomasi sensitif, termasuk pembicaraan terkait program nuklir Iran dengan Washington.

Di saat yang sama, Amerika Serikat dilaporkan meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk, memicu spekulasi bahwa konfrontasi terbuka bisa terjadi kapan saja.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera saat kunjungannya ke Doha, Larijani menegaskan bahwa Iran telah memperkuat pertahanan dalam tujuh hingga delapan bulan terakhir.

“Kami sudah siap. Kami tidak mencari perang dan tidak akan memulainya. Tetapi jika dipaksakan, kami akan merespons,” ujarnya.

Pernyataan itu memperlihatkan strategi ganda Iran: menunjukkan kesiapan militer sekaligus menghindari eskalasi terbuka.

Berdasarkan laporan berbagai sumber diplomatik dan pejabat keamanan, fokus utama kepemimpinan Iran saat ini adalah memastikan keberlangsungan Republik Islam dalam skenario terburuk: serangan militer, pembunuhan terarah terhadap elite, atau keruntuhan stabilitas internal.

Langkah-langkah yang disebut tengah dipersiapkan meliputi:

Semua ini dirancang untuk memastikan bahwa struktur kekuasaan tetap berjalan bahkan dalam kondisi konflik bersenjata.

Situasi yang berkembang menempatkan Iran di titik krusial.

Di satu sisi, tekanan eksternal semakin intens.

Di sisi lain, stabilitas domestik diuji oleh ketidakpuasan publik dan tekanan ekonomi.

Dengan Ali Larijani kini berada di pusat pengambilan keputusan, arah kebijakan Iran tampak semakin tegas: bertahan, memperkuat posisi tawar, dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Apakah strategi ini akan meredakan ketegangan atau justru memperbesar risiko konflik terbuka? Jawabannya mungkin akan menentukan masa depan Iran—dan stabilitas kawasan Timur Tengah—dalam waktu dekat.

Editor : Mahendra Aditya
#Iran siap membalas #Serangan ke Iran #donald trump #Serangan Israel ke Iran #iran #Israel Attack Iran #Perang iran #Israel #palestina #program nuklir Iran #AS dan Israel Serang Iran #amerika serikat #konflik AS Iran #Iran War #Iran Serang Balasan Amerika Serikat #Ali Khamenei #Trump Serang Iran