RADAR KUDUS - Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, dr. Marwan al‑Sultan, tewas dalam serangan udara Israel pada Rabu, 2 Juli 2025, di rumahnya di Tal al‑Hawa, Gaza barat daya, bersama istri dan anak-anaknya.
Pemerintah Indonesia menyampaikan duka cita yang mendalam melalui Kementerian Luar Negeri.
Dalam pernyataan resmi, Kemlu mengecam keras tindakan tersebut dan mengapresiasi dedikasi al‑Sultan terhadap pelayanan medis dan perdamaian di Gaza.
Al‑Sultan dikenal sebagai dokter senior dan direktur Rumah Sakit Indonesia—fasilitas penting bagi warga di Gaza utara yang sering tertutup akses medis akibat situasi konflik .
Kementerian Kesehatan Gaza mengecam serangan itu sebagai tindakan tertarget terhadap petugas medis dan mengutuk keras pembunuhan ini.
Organisasi kemanusiaan Gaza menyebut serangan ini bagian dari pola sistematis yang menarget fasilitas kesehatan dan petugas medis sejak awal konflik, termasuk serangkaian penembakan dan pengeboman terhadap rumah sakit .
Marwan al‑Sultan selama ini aktif melaporkan kondisi darurat kemanusiaan dan mengadvokasi keselamatan tenaga medis serta pasien di Gaza.
Ia juga pernah menyuarakan keprihatinan saat Rumah Sakit Indonesia diserang di bulan Mei 2024, menegaskan pentingnya perlindungan staf dan fasilitas medis.
WHO mencatat bahwa ratusan fasilitas kesehatan dan petugas medis telah menjadi korban serangan bersenjata, memperparah krisis di tengah masyarakat sipil yang terjebak konflik.
Menurut LSM Healthcare Workers Watch, lebih dari 70 petugas medis tewas dalam 50 hari terakhir, dan total korban hingga kini mencapai lebih dari 1.400 tenaga kesehatan sejak Oktober 2023.
Selain Indonesia, organisasi seperti CAIR (Council on American–Islamic Relations) di AS juga mengecam serangan ini dan menuntut tindakan internasional untuk melindungi pekerja medis di Gaza.
Pemerintah Indonesia kini intens memonitor kondisi keamanan dan keselamatan warga negara serta relawan di Gaza, sambil terus mengupayakan jalur diplomasi dan bantuan kemanusiaan .
Tragedi ini menjadi pengingat keras akan bahaya yang terus mengancam tenaga medis di zona konflik membutuhkan aksi sistematis dari dunia internasional untuk menghentikan penargetan rumah sakit dan petugas kesehatan. (Nilna Hibran)
Editor : Ali Mustofa