RADAR KUDUS - Sedikitnya ada sembilan orang tewas dan 2.750 orang terluka akibat ledakan pager di Libanon pada Selasa (17/9/2024).
Pengumuman itu telah menyita perhatian publik, apalagi karena ledakan yang terjadi serentak itu diduga berasal dari serangan Israel melalui media komunikasi yang dibawa sehari-hari oleh kelompok bersenjata Libanon, Hizbullah.
Baca Juga: Konglomerasi Yamaha Motor Ditikam saat Tidur, Diduga Sempat Pukulan Putrinya hingga 6 kali
Baca Juga: POTRET Menggemaskan Moo Deng, Bayi Kuda Nil Thailand yang Viral di Medsos
Melansir dari Reuters pada Kamis (19/9/2024) Pihak Hizbullah menjelaskan serangan itu sebagai pelanggaran keamanan paling serius dalam sejarah. Selain itu, diisukan bahwa akan ada peningkatan serangan lebih parah dari Israel di Lebanon.
Ketahui Israel dan Hizbullah telah terlibat dalam perang “baku tembak” di perbatasan Lebanon-Israel sejak 8 Oktober.
Baca Juga: Kate Middleton Anggota Kerajaan Inggris Berbagi Kabar setelah Jalani Kemoterapi
Sementara itu, Pager yang menjadi alat komunikasi itu diduga telah ditanami bahan peledak di dalam perangkat oleh badan mata-mata Israel, Mossad.
Banyak orang bertanya, apa itu Pager.
Ternyata, Pager atau penyeranta adalah alat komunikasi yang ada saat handphone atau smartphone belum populer seperti sekarang.
Pager banyak digunakan pada tahun 1990an dan dikenal memiliki daya yang bertahan lama.
Melansir dari Reuters, pager juga dikenal sebagai pager karena bunyi yang dihasilkannya dapat memberi tahu pengguna tentang pesan masuk.
Sejak adanya handphone/ smartphone, pager sudah tidak digunakan lagi.
Baca Juga: Bahaya 'Chroming': Kasus Cesar Watson-King dan Ancaman Dibalik Tren TikTok Ini
Namun ternyata perangkat elektronik kecil ini tetap menjadi alat komunikasi yang penting di dalam bidang layanan kesehatan dan layanan darurat. Apalagi masa pakai baterainya tahan lama.
Lalu bagaimana pager tersebut bisa meledak di Libanon?
Baca Juga: Wah! Baru 1 Jam buat Youtube, Cristiano Ronaldo Langsung Dapat 1 Juta Subcriber, Kok Bisa?
Melansir dari Aljazeera, timbul beberapa dugaan bahwa terdapat jaringan radio yang bergantung pada pager kemungkinan telah diretas.
Sehingga, sistem yang memancarkan sinyal memicu respon dalam pager yang telah dimodifikasi. Lalu bisa meledak.
Editor : Noor Syafaatul Udhma