KUDUS – Buat banyak mahasiswa, kuliah saja kadang sudah bikin jadwal penuh. Tapi beda cerita dengan Nisa Abida Amalia (21). Mahasiswi asal Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus ini sukses menjalani tiga peran sekaligus: kuliah, kerja, dan membangun bisnis.
Nisa yang saat ini menempuh pendidikan di Program Studi Manajemen Bisnis Syariah Universitas Sunan Kudus memilih untuk nggak hanya fokus mengejar nilai di kelas. Sejak masih kuliah, ia sudah mulai mencari pengalaman kerja sekaligus merintis usaha sendiri.
Saat ini, Nisa bekerja sebagai content creator di sebuah toko ponsel. Tapi pekerjaannya bukan sekadar bikin video viral atau upload konten di media sosial.
Ia ikut terlibat dalam berbagai strategi pemasaran digital, mulai dari menyusun konsep konten, proses syuting, editing video, membuat campaign promosi, mengelola akun media sosial, menjadi admin, hingga meningkatkan engagement agar penjualan toko terus naik.
"Banyak orang mengira content creator cuma bikin video. Padahal di balik itu ada proses belajar tentang strategi digital marketing, memahami karakter audiens, sampai membangun komunikasi yang baik dengan pelanggan," cerita Nisa.
Pengalaman itu justru membuatnya semakin memahami bagaimana dunia bisnis bekerja di era digital. Ilmu yang didapat di kampus pun bisa langsung dipraktikkan di dunia kerja.
Namun kesibukan Nisa belum berhenti di situ.
Di sela-sela aktivitas kuliah dan bekerja, ia juga menjalankan dua usaha yang dibangun dengan modal keberanian dan konsistensi.
Bisnis pertama bergerak di bidang jasa makeup artist (MUA). Ia melayani berbagai kebutuhan rias, mulai dari wisuda, lamaran, pesta, hingga acara keluarga. Menurutnya, setiap pelanggan memiliki karakter yang berbeda sehingga pelayanan menjadi hal paling penting dalam membangun kepercayaan.
Selain itu, Nisa juga mengembangkan bisnis penjualan hijab yang dipasarkan secara online. Menariknya, hampir semua proses ia kerjakan sendiri. Mulai dari menentukan konsep promosi, membuat foto produk, menyusun konten media sosial, hingga melayani pembeli.
Lewat usaha tersebut, ia belajar langsung bagaimana membangun sebuah brand, mengelola pemasaran digital, hingga memahami perilaku konsumen.
Meski terlihat sibuk, Nisa mengaku semua aktivitas itu justru membuatnya semakin berkembang.
Tantangan terbesar bukan soal pekerjaan yang banyak, melainkan bagaimana membagi waktu dengan baik. Ia harus memastikan kuliah tetap berjalan lancar tanpa mengorbankan pekerjaan maupun bisnis yang sedang dibangun.
Baginya, manajemen waktu menjadi skill yang wajib dimiliki anak muda yang ingin berkembang.
Perjalanan Nisa memulai bisnis sebenarnya berawal dari ketertarikannya terhadap dunia digital kreatif. Ia senang membuat konten, mengikuti perkembangan media sosial, hingga mempelajari strategi digital marketing.
Dari hobi tersebut, perlahan muncul berbagai peluang. Mulai dari dipercaya menjadi content creator hingga akhirnya berani membuka usaha sendiri.
Menurutnya, pengalaman jauh lebih berharga daripada hanya menunggu kesempatan datang.
Selain aktif bekerja dan berbisnis, Nisa juga memiliki hobi fotografi, videografi sederhana, membuat konten kreatif, hingga mengikuti berbagai tren media sosial. Semua itu menjadi bekal untuk terus meningkatkan kualitas bisnis yang dijalankannya.
Ke depan, ia ingin usahanya semakin berkembang dan dikenal lebih luas. Tak hanya itu, Nisa juga ingin memperdalam kemampuan di bidang digital marketing agar mampu membangun bisnis yang lebih besar sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
Ia percaya, usia muda adalah waktu terbaik untuk mencoba banyak hal, memperbanyak pengalaman, dan berani keluar dari zona nyaman.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Nisa ingin membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya bisa berprestasi di bangku kuliah, tetapi juga mampu menjadi entrepreneur muda yang mandiri, kreatif, dan siap bersaing di era digital.
Kisah Nisa menjadi bukti bahwa memanfaatkan media sosial dan teknologi dengan cara yang tepat bisa membuka banyak peluang. Selama ada kemauan untuk belajar, konsisten, dan berani memulai, kesuksesan bukan lagi sekadar impian, tetapi sesuatu yang bisa dibangun sejak masih menjadi mahasiswa. (dik/mah)
Editor : Mahendra Aditya