RADAR KUDUS - ZHEINA Amartya, atlet asal Jepara kelahiran 19 Oktober 2002, menjadi bukti bahwa konsistensi dan kerja keras, mampu mengantarkan perempuan muda Indonesia menorehkan prestasi hingga level internasional.
Sejak kecil, Zheina dikenal aktif di berbagai bidang, bermusik, modeling, presenter TVRI, hingga wushu. Namun titik baliknya hadir saat masih duduk di bangku kelas 4 SD, waktu itu ia ikut POPDA dan memutuskan fokus pada tenis.
"Aku suka tenis karena olahraga ini seru, bisa ketawa lepas saat main, sekaligus memperluas relasi," ungkapnya Jumat (19/9).
Prestasi mengesankan di dalam cabor tenis dan soft tenis pun dikoleksinya. Karier menterengnya di dunia tenis dimulai sejak 2011 dan terus berlanjut hingga kini.
Beberapa prestasi yang berhasil ia raih di antaranya, Juara 1 dan 3 International Junior Tennis Championship, Penang, Malaysia (2016). Juara 1 Piala Rektor UNS (2021). Juara 1 Piala Ingco UNY (2022). Juara 3 POMPROV (2022). Peringkat 9 nasional pada masa junior.
Tak hanya di tenis, Zheina juga menekuni soft tenis dan menorehkan prestasi, juara 3 PON 2016 (Jawa Tengah). Juara 3 Kejurnas 2016. Juara 3 PORPROV (Jepara). Juara 1 Kejurnas 2024. Juara 3 PON Aceh 2024 (Jawa Tengah)
Bagi Zheina, prestasi bukanlah hasil instan. Sejak kecil ia terbiasa disiplin, berlatih rutin bersama ayah, menjaga pola makan, hingga mengatur waktu. "Hasil besar datang dari kerja kecil yang konsisten setiap hari," jelasnya.
Ia menambahkan, tenis adalah olahraga mental yang melatih pengendalian emosi, fokus, hingga kemampuan pemecahan masalah.
"Kalau tertinggal poin, harus cepat ubah strategi. Itu juga membantu aku lebih tenang menghadapi kehidupan," katanya.
Lahir di keluarga yang gemar olahraga, jiwa atlet memang mengalir dalam darahnya. Ayah dan ibunya selalu mendukung penuh, begitu pula teman-teman sekolah dan kuliahnya.
Pendidikan formalnya pun ia jalani dengan baik, mulai dari SD hingga SMA di Pecangaan, lalu melanjutkan kuliah Manajemen di Universitas Diponegoro (2021).
Kini, di samping aktivitas sebagai atlet, Zheina juga aktif sebagai pelatih. Ia mendirikan Exercide dan Jakarta Tennis School dengan total hampir 600 anggota. Baginya, olahraga bukan sekadar prestasi, tapi juga wadah untuk berbagi dan menginspirasi.
"Perempuan yang baik ialah ia yang mandiri dan berani memilih jalannya sendiri. Aku memilih tenis, dan sekarang bisa jadi coach sekaligus entrepreneur. Yang penting berani berkembang, terus belajar, dan tetap rendah hati," ujar Zheina.
Di tengah padatnya jadwal, Zheina mengatur keseharian dengan disiplin menggunakan to-do list dan Google Calendar.
Ia juga selalu menyisihkan waktu untuk istirahat, family time, hingga me time seperti gym, yoga, atau sekadar menonton YouTube.
Dengan semangat pantang menyerah, prestasi cemerlang, serta peran barunya sebagai coach, Zheina Amartya membuktikan bahwa perempuan muda Indonesia mampu bersinar di kancah internasional, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
"Intinya mau kerja keras dan tekun, karena juara gak ada yang instan. Percaya sama proses . Proses panjang meraih juara membentuk kerja keras, ketekunan, serta mental yang tangguh, sementara sportivitas mengajarkan respect pada lawan, coach, dan diri sendiri," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya