RADAR KUDUS - Sosok Septia Setyo Rahayu menjadi salah satu guru muda di Kepulauan Karimunjawa yang memiliki dedikasi tinggi untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.
Sudah tiga tahun mengajar di SD Kepulauan Karimunjawa.
Sejak tahun 2021 ia mendidik penerus generasi bangsa di sana.
”Saya mendapat SK PNS pada November 2020. Kemudian mulai di Karimunjawa awal tahun 2021,” terang perempuan asal Kecamatan Margorejo, Kabupaten ini.
Perempuan berusia 26 tahunan itu, menjadi guru kelas 1 di SDN 1 Karimunjawa.
Ia mengaku proses belajar di sana tak seperti di daerah perkotaan.
Perlu mencari model pembelajaran yang cocok bagi anak-anak.
”Ini masih adaptasi. Menurutku di sini cocok dengan metode pembelajaran di luar kelas,” imbuhnya.
Septi mencoba agar ilmu yang didapat sewaktu kuliah di Universtas Negeri Semarang (UNNES) bisa benar-benar bermanfaat.
Apalagi baginya, anak-anak di sana perlu berbagai cara agar bisa pintar.
”Saya belajar bagaimana Karimunjawa itu. Sebaliknya, saya juga mengenalkan dunia luar kepada murid saya. Jadi belajar dari pengalaman itu juga penting,” imbuhnya.
Dari itu, ia ingin mengenalkan dan meningkatkan pengetahuan anak.
Berdasarkan pengalamannya tiga tahun di Karimunjawa itu, banyak anak yang pengetahuannya kurang.
Berbeda dengan milenial di perkotaan, di Karimunjawa ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) masih tergolong rendah.
Septi ingin anak didiknya memahami dunia luar biat tak gaptek.
”Pemahaman akan keadaan di luar Karimunjawa ini masih minim. Begitupula dengan IPTEK. Jadi anak-anak ini hanya tahu apa yang ada disekitarnya saja. Misalnya transportasi utama itu tahunya kapal. Padahal di luar sana tidak. Masih ada banyak alat transportasi,” tukasnya.
Di samping itu, Septi juga pantang menyerah.
Meski tak banyak siswa yang tak hadir, dia tetap semangat mengajari anak-anak itu pengetahuan.
”Tingkat kehadiran siswa ini masih rendah. Banyak yang masih tak masuk sekolah. Katanya mereka pada ikut orangtuanya untuk menyebrang kota. Dan itu izinnya sampai seminggu lebih,” paparnya.
Memang tak mudah bagi orang perkotaan untuk bertahan di sebuah kepulauan.
Misalnya dia harus bersabar dengan sinyal telefon yang putus-nyambung.
Kemudian keberadaan barang atau kebutuhan pokok lainnya.
”Sarana pembelajaran juga sulit dicari. Kadang saya juga beli ke luar pulau. Sinyal handphone (HP) juga tidak stabil,” ucapnya.
Untuk bertahan dari halangan dan rintangan itu, Septi butuh waktu hingga sekarang untuk beradaptasi.
Agar tidak merasa stress, sekilas terbenak di pikirannya yaitu mengajar sambil berwisata.
Bagi Septi, banyak wisata ataupun pemandangan yang tak didapatnya ketika ada di Pulau Jawa. (adr).
Editor : Dzikrina Abdillah