Saat itu dirinya membawakan kostum daur ulang dari bahan bekas tikar, baner, dan plastik. Penampilannya berhasil membuat seluruh tamu memberikan tepuk tangan. Mulai dari Forkompimda, beberapa kepala OPD, camat, hingga rekan-rekannya disabilitas lainnya.
”Dia (Nurul Ulya Putriana, Red) sudah punya keterampilan. Kemudian kami asah di sekolah,” kata Putri didampingi guru pendamping Hadi.
Tampilan itu, ia mengaku persiapan terbatas. Hanya dalam sepekan. Paling lama harus menyiapkan kostum. Kostum itu karya anak-anak SLB Lasem.
”SLB ciptakan kostum itu sekaligus kampanyekan bahwa sampah bisa didaur ulang. Bisa jadi kostum yang menarik dari pada membeli baru. Kebetulan di bagian dalam dan rok kostum manfaatkan banner. Ini optimalkan sisa limbah saat musim – musim tertentu,” tambah Hadi.
Putri di kampunya Ukir, Pamotan juga sering ikut rias kakanya. Misalnya saat ada acara sedekah bumi. Termasuk lukisan tubuh juga kuasai. Kebetulan di SLB semakin tearah. Makanya ketika diberi kepercayaa bersama teman-teman berusaha tampil terbaik.
Dara yang memiliki tinggi badan 168 cm tak hanya bisa sebagai model. Dia juga jago melukis. Aliran lukisannya mulai dari realis, dekoratif, hingga abstrak.
”Saya dibimbing langsung pak Hadi. Termasuk dari menari hingga model dari sekolah,” jelasnya yang diterjemahkan Hadi kepada Jawa Pos Radar Kudus ini. (noe/zen) Editor : Ali Mustofa