Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Belasan Ribu Anak Tak Sekolah, Disdik Grobogan Temukan Banyak Data Tak Valid

Intan Maylani Sabrina • Jumat, 8 Mei 2026 | 14:51 WIB
PKBM: Sejumlah anak yang kembali ke sekolah saat mengikuti pembelajaran di PKBM.
PKBM: Sejumlah anak yang kembali ke sekolah saat mengikuti pembelajaran di PKBM.

GROBOGAN – Jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Grobogan pada tahun 2025 masih tergolong tinggi. Data resmi Pemkab Grobogan yang bersumber dari Dinas Pendidikan (Disdik) mencatat total 11.806 anak berada di luar bangku pendidikan.

Sekretaris Disdik Grobogan, Suprojo DS, menyebut angka tersebut terdiri dari 3.555 anak drop out (DO), 2.482 anak belum pernah bersekolah (BPB), serta 5.769 anak lulus tetapi tidak melanjutkan (LTM) ke jenjang berikutnya.

“Dari total 11.806 ATS, rinciannya 3.555 DO, 2.482 BPB, dan 5.769 LTM,” jelas Suprojo.

Namun di balik angka besar itu, Disdik juga menemukan fakta penting bahwa tidak semua data ATS benar-benar sesuai kondisi di lapangan. 

Saat diminta menyisir sekitar 898 ATS di desa-desa kantong kemiskinan ekstrem, hasilnya mengejutkan.

“Setelah kami cek, dari 898 itu hanya sekitar 100 yang benar-benar ATS,” ungkapnya.

Suprojo menilai, ketidaksesuaian data ini menunjukkan perlunya validasi yang lebih ketat agar program pendidikan tidak salah sasaran.

Sejak 2024, pihaknya pun intens turun ke desa-desa, berkoordinasi dengan kepala desa, kelurahan, hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk menyisir ATS secara langsung.

Ia menambahkan, tingginya angka anak tidak sekolah di Grobogan dipicu banyak faktor. Penyebab paling dominan adalah persoalan ekonomi, karena banyak anak berasal dari keluarga pra sejahtera.

“Yang paling dominan faktor ekonomi,” katanya.

Selain itu, faktor sosial juga turut berpengaruh, mulai dari kondisi keluarga broken home, anak terpengaruh pergaulan jalanan, hingga masih adanya pola pikir orangtua yang menganggap pendidikan anak perempuan tidak terlalu penting.

“Masih ada yang berpikir anak perempuan lebih baik menikah muda, usia 15 tahun sudah dinikahkan,” paparnya.

Faktor lingkungan keluarga juga menjadi sorotan.

Menurut Suprojo, ada orangtua yang hanya memenuhi kebutuhan sekolah secara materi, tetapi tidak memastikan anak benar-benar mengikuti proses belajar.

“Seragam, sepatu, tas dipenuhi, tapi anaknya berangkat sekolah atau tidak, kurang dipedulikan,” sambungnya.

Untuk menekan angka ATS, Disdik kini menjalankan program Siap Gulung ATS, sebuah sistem informasi sekaligus gerakan layanan langsung agar anak-anak bisa kembali ke sekolah.

Suprojo mengatakan, program itu lahir dari keprihatinannya ketika mengetahui Angka Partisipasi Sekolah (APS) Grobogan belum menyentuh 100 persen, masih berada di kisaran 96 hingga 97 persen.

“Artinya masih ada dua sampai tiga persen anak yang tidak sekolah,” ujarnya.

Tak hanya lewat sistem, Suprojo juga mendorong kampanye pendidikan hingga tingkat desa. Ia mengusulkan ajakan kreatif melalui poster, stiker, pamflet, hingga banner berisi pesan seperti

“Anak Grobogan Harus Sekolah” yang ditempel di ruang-ruang publik.

Ia bahkan mengusulkan adanya lomba “Desa Bersih ATS” sebagai upaya memantik kepedulian perangkat desa agar aktif mendata dan mengajak anak-anak kembali bersekolah.

“Kalau semua desa bergerak, saya yakin angka ATS bisa ditekan,” pungkasnya. (int)

Editor : Admin
#DO #ATS #grobogan #pkbm #miskin ekstrem