GROBOGAN- Kehangatan sambutan warga Kabupaten Grobogan menjadi penyemangat tersendiri saat Gary Bencheghib bersama Sam dan Kelly menjalani “Run for Rivers” memasuki Kota Swike, kemarin.
Perjalanan mereka di Grobogan bukan sekadar lari biasa, namun juga membawa pesan penting tentang kepedulian terhadap lingkungan, terutama ancaman sampah plastik di sungai.
Ketiganya memulai lari dengan ritme santai. Gary terlihat sekali mengubah rute dan memilih masuk ke gang-gang kecil di permukiman warga, meski akhirnya tetap tembus ke jalur utama yang sama.
Di salah satu titik, ia bahkan berhenti sejenak saat melihat sekelompok bapak-bapak yang sedang asyik bermain catur di pinggir jalan.
Momen sederhana itu membuat suasana perjalanan terasa lebih dekat dengan kehidupan warga.
Gary sempat menyapa singkat, membuat warga yang awalnya santai ikut antusias melihat rombongan pelari asing yang melintas.
Namun perjalanan mereka tidak selalu mulus. Beberapa kali, laju ketiganya sempat terganggu akibat bau menyengat dari sampah yang dibakar di sepanjang jalan.
Gary tampak menutup hidung dengan kausnya. Senada dengan Kelly dan Sam, mereka bahkan sembari merekam pembakaran sampah tersebut menggunakan kamera.
Bau asap pembakaran sampah itu menjadi salah satu gambaran nyata persoalan lingkungan yang masih ditemui di lapangan.
Meski begitu, mereka tetap melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di water station (WS) pertama.
Sesampainya di WS pertama, suasana berubah hangat dan meriah. Gary, Sam, dan Kelly langsung disambut warga yang sudah menunggu sejak awal.
Lokasinya berada di rumah Heri warga di Desa Gabus, Kecamatan Gabus.
Sejumlah emak-emak tampak paling antusias. Mereka menyambut dengan senyum lebar, melambaikan tangan, hingga mengajak tos satu per satu.
Kehangatan itu membuat WS pertama terasa akrab dan penuh semangat, seolah menjadi tempat istirahat sekaligus titik kumpul warga yang ingin memberi dukungan langsung.
Tidak sedikit warga yang memanfaatkan kesempatan itu untuk berfoto bersama.
Ada pula yang menanyakan asal Gary dan timnya, serta penasaran dengan tujuan lari yang dilakukan dari hari ke hari.
Di tengah keramaian, Gary sempat melontarkan candaan menggunakan logat Jawa yang langsung membuat suasana pecah.
“Iso mlayu, Bu?” tanya Gary sambil tersenyum, yang spontan disambut tawa warga.
Candaan sederhana itu membuat warga semakin dekat.
Mereka terlihat tidak canggung, bahkan beberapa ibu-ibu balik menggoda dan memberi semangat agar Gary dan tim tetap kuat sampai garis akhir.
Dukungan warga yang ditemui sepanjang perjalanan, termasuk sambutan hangat di WS pertama tersebut, menjadi suntikan semangat bagi Gary, Sam, dan Kelly untuk terus melanjutkan rute berikutnya.
Mereka juga tampak menikmati interaksi dengan masyarakat lokal yang begitu ramah.
Kehangatan WS pertama semakin terasa ketika Gary mengajak warga untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Ajakan itu langsung disambut antusias. Warga berdiri dan ikut bernyanyi bersama.
Gary tampak fasih melantunkan lagu kebangsaan Indonesia tersebut.
Momen itu membuat suasana WS pertama tidak hanya meriah, tetapi juga terasa haru dan penuh kebanggaan.
Setelah beristirahat sejenak, ketiganya bersiap melanjutkan perjalanan (int/lin)
Editor : Admin