GROBOGAN – Pagi hingga sore hari, Bripda Salma Maria Naifa mengenakan seragam polisi dan menjalankan tugas sebagai anggota Ditpolairud Polda Jawa Tengah.
Namun ketika akhir pekan tiba, polwan muda berusia 21 tahun itu menempuh perjalanan menuju sebuah pondok pesantren di Kabupaten Grobogan.
Di tempat itulah ia kembali menjadi santri.
Setiap Sabtu dan Minggu, Bripda Salma rutin datang ke Pondok Pesantren At-Taufiqiyyah di Desa Brabo, Kecamatan Tanggungharjo.
Baca Juga: 22 Anak Yatim di Grobogan Bahagia Jelang Lebaran, CSR Hanifa Ajak Belanja Baju Baru Langsung di Toko
Di tengah kesibukannya sebagai anggota Polri, ia memilih memanfaatkan waktu libur untuk memperdalam ilmu membaca Al-Qur’an.
Bukan sekadar membaca biasa. Polwan asal Kabupaten Demak itu sedang mendalami Qiroah Sab’ah, yakni tujuh metode bacaan Al-Qur’an yang diwariskan dari para imam qiraat sejak berabad-abad lalu.
Kesungguhan itu menjadikan sosok Bripda Salma berbeda. Di balik tugasnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, ia menyimpan komitmen kuat untuk terus menjaga kedekatannya dengan Al-Qur’an.
Bripda Salma memang bukan sosok baru dalam dunia hafalan kitab suci.
Ia resmi bergabung dengan Polri pada 2024 melalui jalur Rekrutmen Proaktif (Regpro) Hafidz 30 juz.
Baca Juga: Tanpa Potong Gaji, Pemkab Grobogan Siapkan JKK-JKM dan JKN untuk Ribuan PPPK Paruh Waktu
Saat proses pendaftaran tersebut, ia bahkan menjadi satu-satunya peserta di angkatannya yang telah memiliki hafalan Al-Qur’an lengkap 30 juz.
Bagi Salma, menghafal Al-Qur’an bukanlah akhir perjalanan.
Justru itu menjadi pintu untuk terus belajar lebih dalam mengenai berbagai metode bacaan yang diwariskan para ulama.
“Saya ingin menunjukkan bahwa bacaan Al-Qur’an itu tidak hanya satu macam.
Ada tujuh cara membaca yang dikenal dengan Qiroah Sab’ah. Ini menjadi upaya saya untuk terus memperdalam ilmu agama,” ujarnya.
Hari-hari kerja Salma dihabiskan untuk berdinas di lingkungan Polda Jawa Tengah. Rutinitas kepolisian yang padat tidak membuatnya mengendurkan semangat belajar.
Ia memilih disiplin membagi waktu. Senin hingga Jumat digunakan sepenuhnya untuk menjalankan tugas sebagai anggota Polri. Sementara Sabtu dan Minggu menjadi waktu khusus untuk kembali menimba ilmu di pesantren.
“Untuk membagi waktu, hari Senin sampai Jumat saya fokus berdinas. Sedangkan hari Sabtu dan Minggu saya gunakan untuk belajar di pondok pesantren,” jelasnya.
Semangat tersebut juga tidak lepas dari peran guru spiritualnya, Gus Sihab atau Sihabul Millah dari Pondok Pesantren Bustanul Arifin. Di pesantren itulah ia pertama kali memperdalam ilmu agama sebelum akhirnya bergabung menjadi anggota kepolisian.
Keputusan Bripda Salma untuk terus belajar juga mendapat dukungan penuh dari keluarga serta para pimpinannya di kepolisian. Dukungan tersebut membuatnya semakin termotivasi untuk berkembang, baik sebagai abdi negara maupun sebagai seorang hafidzah.
Sejak mulai mempelajari Qiroah Sab’ah pada September 2025, Bripda Salma kini telah menempuh proses belajar selama sekitar enam bulan. Dari perjalanan tersebut, ia mulai menguasai salah satu metode bacaan, yakni riwayat Imam Nafi’ melalui perawi Warsh.
Pengajarnya di Pondok Pesantren At-Taufiqiyyah, Ustadz Zaenal Arifin, mengaku bangga dengan ketekunan santriwatinya tersebut. Menurutnya, sosok Bripda Salma membuktikan bahwa profesi apa pun tidak menjadi penghalang untuk terus menuntut ilmu agama.
“Saya sangat bangga. Seorang polisi yang hafal Al-Qur’an minimal dapat membentengi dirinya sendiri. Maksimal, ia bisa mewarnai rekan-rekan polisi lainnya agar menjalankan tugas dengan akhlakul karimah karena takut melanggar aturan Tuhan,” ungkapnya.
Bagi Bripda Salma, perjalanan yang ia jalani saat ini bukan sekadar untuk dirinya sendiri. Ia berharap langkah kecilnya bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda, termasuk rekan-rekan sesama anggota Polri.
Ia ingin menunjukkan bahwa pengabdian kepada negara tidak harus meninggalkan nilai-nilai spiritual.
“Menjadi polisi adalah pengabdian di dunia. Tapi belajar Al-Qur’an adalah investasi untuk kehidupan di akhirat,” tuturnya. (mun)
Editor : Mahendra Aditya