Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kerugian Akibat Banjir Grobogan Capai Rp 20,6 Miliar dengan Total 50 Desa Terdampak

Sirojul Munir • Jumat, 20 Februari 2026 | 17:06 WIB
PAPARAN - Bupati Grobogan Setyo Hadi melakukan pemaparan tentang bencana banjir dalam kunjungan Kepala BNPB di aula Kecamatan Gubug
PAPARAN - Bupati Grobogan Setyo Hadi melakukan pemaparan tentang bencana banjir dalam kunjungan Kepala BNPB di aula Kecamatan Gubug

GROBOGAN – Bencana banjir yang melanda wilayah Kabupaten Grobogan sejak Senin (16/2/2026) meninggalkan kerugian besar.

Tingginya curah hujan yang mengguyur kawasan hulu serta jebolnya tanggul Sungai Tuntang di delapan titik menjadi pemicu utama meluasnya genangan.

Berdasarkan laporan terbaru per Rabu (19/2/2026) pukul 19.00 WIB, total kerusakan ditaksir mencapai Rp 20,6 miliar.

Bupati Grobogan, Setyo Hadi, dalam keterangannya menyampaikan bahwa kondisi tersebut memaksa pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat bencana.

“Melihat pertimbangan kondisi ini, kami bersama Forkopimda dan OPD terkait mengambil sikap menetapkan status tanggap darurat bencana selama tujuh hari dan dapat diperpanjang sesuai hasil evaluasi,” tegasnya.

Data sementara mencatat, banjir merendam 50 desa di 12 kecamatan. Sebanyak 10.608 kepala keluarga terdampak dengan total 34.476 jiwa. Kerusakan rumah tercatat satu unit rusak berat dan satu unit rusak sedang.

Selain itu, 35 fasilitas pendidikan ikut terdampak genangan. Area persawahan seluas 2.318 hektare ikut terendam, mayoritas tanaman padi dalam kondisi belum panen. Sektor pertanian menjadi penyumbang kerugian terbesar.

Tanggul Sungai Tuntang dilaporkan jebol di delapan titik. Dua titik terparah berada di Desa Tinanding, yang menyebabkan air meluap cepat ke permukiman dan areal sawah.

Hingga kini, pemerintah daerah terus melakukan monitoring dan evaluasi di lapangan. Distribusi bantuan logistik dilakukan secara bertahap ke wilayah terdampak. Meski sebagian genangan mulai surut, masih terdapat empat desa yang tergenang air.

“Kami terus melakukan pemantauan dan memastikan distribusi bantuan serta logistik berjalan lancar,” lanjut Setyo Hadi.

Berdasarkan evaluasi kebutuhan mendesak, pemerintah daerah memprioritaskan perbaikan tanggul sungai dan infrastruktur jalan yang rusak. Selain itu, dibutuhkan bantuan sumur portabel, perahu karet, serta kendaraan operasional untuk distribusi logistik.

Pemkab Grobogan berharap dukungan dari pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana serta pemerintah provinsi untuk percepatan penanganan.

Bupati juga menekankan pentingnya penanganan dari hulu hingga hilir, termasuk konservasi hutan di wilayah atas serta normalisasi dan penguatan tanggul Sungai Tuntang agar kejadian serupa tidak berulang.

“Penanganan harus menyeluruh. Tidak hanya di hilir, tetapi juga dari sisi konservasi dan penguatan tanggul sungai,” tandasnya.

Banjir kali ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir di Grobogan, dengan dampak sosial dan ekonomi yang cukup signifikan bagi masyarakat. Pemerintah daerah memastikan penanganan dilakukan secara maksimal sambil menunggu dukungan tambahan dari pemerintah pusat dan provinsi. (mun)

Editor : Mahendra Aditya
#Bupati Grobogan Setyo Hadi #kepala bnpb #banjir grobogan