GROBOGAN - Dalam upaya mendukung percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC) 2030, Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan mengoptimalkan langkah pencegahan dan pengobatan.
Namun, keterbatasan alat Tes Cepat Molekuler (TCM) menjadi kendala dalam memperluas akses layanan deteksi dini.
Sub Koordinator Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Grobogan Gunawan Cahyo Utomo mengatakan, pemanfaatan pemeriksaan Bakteriologis TCM masih terbatas pada empat fasilitas kesehatan (faskes).
Yaitu RSUD dr Soedjati Purwodadi, Puskesmas Toroh 1, Puskesmas Gubug 1 dan Puskesmas Wirosari 1.
“Dari total 38 fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) yang menangani TBC. Idelanya dibutuhkan delapan unit TCM. Saat ini baru ada empat, sehingga masih kekurangan empat unit untuk pemeriksaan yang lebih optimal,” tegasnya.
Gunawan menjelaskan bahwa melalui TCM sangat praktis digunakan.
Petugas hanya perlu mengambil sampel dahak dan hasil pemeriksaan dapat keluar dalam waktu sekitar 100 menit atau 1,5 jam.
Alat ini tidak hanya mendeteksi keberadaan kuman TBC, tetapi juga mengetahui tingkat resistensi terhadap obat.
"Pemeriksaan ini sangat penting untuk mengetahui apakah pasien mengidap TBC resistan obat, yang memerlukan pengobatan lebih intensif,” jelasnya.
Sepanjang 2024, tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Grobogan mencapai 90,80 persen atau sebanyak 2.188 pasien.
Namun, angka kematian akibat TBC masih tercatat 3,51 persen, atau 74 kasus.
Sementara itu, cakupan skrining Standar Pelayanan Minimal (SPM) telah mencapai 100 persen dari target 20.666 orang.
Untuk tahun ini, Dinkes menargetkan penemuan 16.757 kasus terduga TBC.
Namun hingga April, baru ditemukan 5.287 orang. Dari target 3.448 kasus TBC yang diobati, hingga kini baru terealisasi 889 pasien. (int)