GROBOGAN – Sebanyak 1.001 bonsai dari berbagai daerah di Indonesia turut ambil bagian dalam Kontes Nasional Bonsai yang digelar di halaman Rumah Kedelai Grobogan (RKG).
Acara ini menjadi sorotan karena menampilkan berbagai jenis bonsai berkualitas dalam empat kelas berbeda: Prospek, Pratama, Madya, dan Utama.
Ketua panitia penyelenggara, Kukuh Prasetyo Rusady, mengatakan bahwa ini merupakan kali kedua Kabupaten Grobogan dipercaya menjadi tuan rumah kejuaraan bonsai tingkat nasional oleh Persatuan Pecinta Bonsai Indonesia (PPBI).
“Peserta berasal dari berbagai daerah, seperti Bali, Sumatera, Kalimantan, Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Jawa Tengah,” ujar Kukuh, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan.
Penilaian kontes dilakukan oleh juri bersertifikat nasional selama tiga hari ke depan. Adapun jenis bonsai yang dipertandingkan antara lain Serut, Anting Putri, Hokiantea, Ulmus, Lagundi, Asam Jawa, Santigi, Cemara, Waru, Beringin Korea, Beringin Jawa, Iprik, Kimeng, Lohansung, dan Amplas.
Untuk bisa mengikuti kelas tertinggi, para peserta harus melalui tahapan secara berjenjang.
"Peserta baru umumnya memulai dari kelas Prospek, lalu naik ke Pratama, Madya, dan akhirnya Utama," jelas Kukuh.
Event ini juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi ke-299 Kabupaten Grobogan. Kukuh berharap kegiatan ini dapat semakin menumbuhkan minat masyarakat terhadap seni bonsai.
“Pameran ini bukan hanya soal kompetisi, tapi juga edukasi dan pelestarian budaya. Kami ingin Grobogan dikenal sebagai salah satu pusat bonsai di tingkat nasional,” tambahnya.
Menurut Kukuh, even bonsai kali ini adalah yang terbesar di Grobogan, baik dari segi jumlah peserta maupun kualitas penataan lokasi.
Baca Juga: Simak! 7 Tanaman Ini Bisa Buat Pemiliknya Cepat Kaya, Ada Bonsai hingga Aglonema
“Kualitas dan kuantitas bonsai di setiap kelas sangat antusias. Penataan lokasinya pun memenuhi standar nasional,” ujarnya.
Penilaian dalam kontes ini dilakukan dengan sistem yang ketat. PPBI memiliki standar penilaian yang meliputi elemen-elemen penting seperti penampilan umum, keseimbangan, gerak dasar, karakter, hingga alur pohon.
“Juri juga menilai proporsi, dimensi, harmoni, hingga peletakan pohon dalam pot. Bahkan kematangan anatomi pohon, kesatuan visual, serta kesehatan tanaman juga menjadi poin penting dalam penilaian,” jelas Kukuh.
Ia menambahkan, pot sebagai wadah bonsai bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari estetika secara keseluruhan.
“Dalam bahasa Jepang, ‘Bon’ berarti pot dan ‘Sai’ berarti pohon. Jadi, kesatuan antara keduanya harus harmonis.
Pemilihan bentuk, warna, dan ukuran pot juga menentukan nilai estetika bonsai secara keseluruhan,” tegasnya.
Dengan kualitas penyelenggaraan dan antusiasme peserta yang tinggi, Grobogan kembali membuktikan diri sebagai tuan rumah yang siap bersaing di kancah bonsai nasional.(mun)
Editor : Mahendra Aditya