GROBOGAN - Per Maret angka kematian ibu (AKI) telah ada dua kasus, sedangkan angka kematian bayi (AKB) telah mencapai 30 kasus.
Masih tingginya kasus tersebut membuat Dinkes Grobogan memaksimalkan alat penunjang yang ada hingga penambahan skill bagi tenaga kesehatan (nakes).
Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Grobogan dr Wahyu Tri Haryadi mengatakan, adanya dua kasus AKI tersebut disebabkan karena faktor eklampsia.
"Sedangkan satu kasus lagi belum masuk di Maternal Perinatal Death Notification (MPDN)," jelasnya.
Menurutnya, selama ini rata-rata kasus AKI didominasi usia 22-35 tahun.
"Memang usia di atas 30 tahun ke atas memiliki risiko lebih tinggi. Kerap adanya perburukan kesehatan ibu maupun kondisi janin saat ada dalam kandungan," ujarnya.
"Maka perlu rutin dilakukan pengecekan selama hamil dan rutin melakukan ANC terpadu di puskesmas setempat saat trisemester 1 dan 3,” jelasnya.
Menurutnya memang tidak mudah menyelesaikan kasus tersebut, lantaran perlu adanya peran di semua lapisan masyarakat.
Karena penyebabnya bukan hanya asupan gizi yang kurang namun juga faktor sosial dan ekonomi.
Selain AKI, angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Grobogan masih cukup tinggi.
Sampai Maret terdata ada 30 kasus. Disebabkan karena berat bayi lahir rendah (BBLR) dan asfiksia.
”Kebanyakan penyakit jantung bawaan (PJB) kritis atau asfiksia. Kami juga rutin melakukan pelatihan kepada para bidan sebagai upaya deteksi dini," ujarnya.
"Jika menemukan kasus tersebut, kami harapkan nakes langsung melakukan skrining melalui pulse oksimetri, terutama pada bayi NKICU antara 24-48 jam usia setelah kelahiran," jelasnya. (Int)
Editor : Ali Mustofa