GROBOGAN – Menjelang Hari Raya Idulfitri, jasa penukaran uang baru mulai bermunculan di sepanjang Jalan R Suprapto, Kota Purwodadi, Kabupaten Grobogan.
Para penyedia jasa ini menawarkan penukaran uang dengan tarif yang bervariasi, bahkan ada yang mencapai 17%.
Dua titik jasa penukaran uang terlihat beroperasi di sepanjang Jalan R Suprapto. Salah satu penyedia jasa, yang hanya berinisial B, mengaku sudah lama membuka layanan ini.
Meski tahun ini lebih sulit mendapatkan stok uang baru, pria tersebut tetap bisa memenuhi permintaan pelanggan.
"Stok uang baru tahun ini sudah saya dapatkan beberapa bulan sebelum Ramadan.
Saya mendapatkannya dari bank dan perorangan di Semarang," ujar B, yang membuka jasa penukaran uang menggunakan mobil.
Stok Uang dan Tarif Jasa
Di dalam mobilnya, terlihat satu boks berukuran sedang berisi uang pecahan mulai dari Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000, hingga Rp100.000.
Meski enggan menyebut total uang yang dibawa, B mengaku masih memiliki stok lebih banyak di rumah. "Di rumah masih banyak," katanya.
Tarif jasa penukaran uang yang ditawarkan cukup tinggi, yaitu 17%. "Nanti mendekati H-7 Lebaran, tarifnya bisa semakin tinggi.
Saat ini, pecahan Rp5.000 dan Rp10.000 paling laris," jelas B.
Sejumlah warga memilih menggunakan jasa penukaran uang ini karena kesulitan mendapatkan kuota penukaran uang baru melalui bank.
Salah satu warga mengaku terpaksa menggunakan jasa ini setelah gagal mendapatkan kuota penukaran dari Bank Indonesia (BI).
"Kemarin tidak dapat kuota penukaran dari BI. Akhirnya, saya memutuskan tukar uang lewat jasa pinggir jalan. Tarifnya sampai 10-14%," ujar warga tersebut.
Data Penunjang:
-
Lokasi: Jalan R Suprapto, Purwodadi, Grobogan.
-
Tarif jasa: 10-17%.
-
Pecahan uang yang tersedia: Rp1.000 hingga Rp100.000.
-
Stok: Masih banyak di rumah penyedia jasa.
Munculnya jasa penukaran uang baru di Grobogan menunjukkan tingginya permintaan masyarakat akan uang baru menjelang Lebaran.
Namun, tarif jasa yang tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi warga yang membutuhkan.
Pemerintah dan otoritas terkait perlu memastikan ketersediaan uang baru melalui jalur resmi agar warga tidak tergantung pada jasa penukaran ilegal.
Selain itu, sosialisasi tentang mekanisme penukaran uang baru juga perlu ditingkatkan.
Kesimpulan
Meski tarifnya tinggi, jasa penukaran uang baru di Grobogan tetap diminati warga yang kesulitan mendapatkan kuota melalui bank.
Dengan koordinasi yang baik antara pemerintah dan bank, diharapkan layanan penukaran uang baru dapat lebih mudah diakses oleh masyarakat. (Int)