MASJID Baitul Makmur Purwodadi terletak di sebelah timur Alun-alun Purwodadi. Masjid ini memilik bentuk asli mimbar, tiang masjid dan atap masih asli. Renovasi masjid dilakukan beberapa kali.
Di antaranya dari catatan Yayasan Masjid Baitul Makmur Purwodadi ada empat kali renovasi. Yaitu mulai tahun 1924, 1954, 1974 dan tahun 2002.
Pada 1924 ada pemugaran. Tahun 1954 penggantian mustaka. Lalu diubah lagi pada 1972-1974. Pergantian dilakukan Supardi Rustam alamarhum Gubernur Jawa Tengah.
Mustaka masjid diganti dengan gambar aslinya. Pada 2001-2002 ada pembangunan masjid dengan mengganti Pustaka masjid pada zaman Bupati Agus Supriyanto.
Ketua Yayasan Masjid Besar Baitul Makmur Purwodadi Ari Budi Yani mengatakan, bangunan masjid ini bentuknya saat dibangun pada 1868 Masehi dibangun mengikuti dengan model masjid Demak dengan tiga trap.
Status masjid ini merupakan tanah wakaf dari Bupati Ronggo sesuai bukti C tanah adalah panglima perang zaman kerajaan Mataram. Saat itu, wilayahnya dari Kertosono sampai Kedu.
”Saat itu, masjid digunakan sebagai rumah Perdikan tempat padepokan,” kata Ari Budi Yani.
Sebagai penanda masjid dibangun itu ditulisan mihrab masjid tertanggal 1-1-1868 dan 18-7-1953. Pembangunan masjid ini berbarengan dengan perpindahan pusat pemerintahan dari Kawedanan Grobogan ke Kota Purwodadi.
Sejarah lainya tentang tuanya masjid yang berusia lebih 157 tahun lalu juga ada makam di belakang masjid.
Dimana makam tersebut mempunyai sejarah dalam perjalanan penyebaran Islam di Kabupaten Grobogan. Konon makam yang di belakang masjid merupakan makam salah satu santri dari Sunan Kali Jaga atau pengikut dari Sultan Fatah atau kerajaan Demak.
Bangunan asli lainya dari masjid adalah empat tiang saka masjid menggunakan kayu jati. Namun, kayu jati itu ditutup dengan beton dan dibentuk dengan bulat.
Kemudian masjid ini mempunyai tiga trap dari kayu yang sudah beberapa kali dilakukan pemugaran karena dimakan usia dan rayap.
Status dari masjid merupakan tanah wakaf dengan hak milik dari Bupati Ronggo. Luas dari tanah wakaf ada 9.880 meter persegi. Namun, jumlahnya sekarang berkurang tinggal 4.850 meter persegi.
Luas tanah itu, termasuk dengan area makam umum di belakang. Pengukuran ulang dilakukan pengurus Yayasan Masjid Besar Baitul Makmur Purwodadi pada tanggal 11 Maret 2016. Keberadaan makam umum kauman tersebut sekarang ditutup untuk ummum.
”Masjid ini juga mempunyai tiga pintu besar dari depan. Dua pintu kanan kiri bergambar naga. Konon ada kaitanya dengan Ki Ageng Selo sebagai penangkap petir an kerajaan Kasunaan Demak. Pintu itu baru dibuat saat Bupati Agus Supriyanto tahun 2001,” terang dia. (mun/him)
Editor : Noor Syafaatul Udhma