WARGA Kelurahan Kalongan, Kecamatan Purwodadi dengan warga Desa Ngraji, Kecamatan Purwodadi mempunyai sejarah mitos.
Kedua warga desa tersebut konon tidak boleh menikah. Jika tetap melangsungkan pernikahan maka warga Desa Ngraji bisa meninggal dunia.
Mitos sejarah dari cerita turun-temuruan warga setempat. Berawal dari cerita tentang aduan ayam dari dua warga desa setempat.
Saat adu ayam tersebut, pemenangnya adalah warga Kelurahan Kalongan, Kecamatan Purwodadi.
Kemudian dari hadiah menang tersebut mendapatkan tanah di wilayah Desa Ngraji, Kecamatan Purwodadi.
Sehingga jika dilihat dari peta Kelurahan Kalongan, tanahnya ada yang menjorok masuk di wilayah sebelah Desa Ngraji.
Salah satunya ada di lingkungan Bakalan, Kalongan yang berbatasan dengan Dusun Tempel, Ngraji.
Sukoco tokoh masyarakat warga Lingkungan Bakalan, Kelurahan Kalongan menceritakan, cerita mitos ini sudah dipercaya oleh warga masyarakat secara turun temurun.
Sehingga warga masyarakat Kelurahan Kalongan yang tahu sejarah akan menghindari menikah dengan warga Desa Ngraji.
”Dulu ceritanya saat ada adu ayam jago di lokasi Oro-oro Jago. Ayam dari Desa Ngraji kalah dan yang menang adalah ayam dari Kalongan. Maka saat itu, dua orang adu jago yang sakti terus membuat serapah anak cucunya tidak boleh nikah antara Desa Ngraji dan Kelurahan Kalongan,” kata Sukoco.
Lokasi tempat adu jago tersebut sampai sekarang masih ada. Tempatnya mistis. Berada di depan SMP IT Integral, Kelurahan Kalongan, Kecamatan Purwodadi.
Tanah yang berada di persimpangan jalan tersebut dibiarkan dan tidak ditanami apa-apa. Serta dibangun gedung.
”Dari tempat itu, terlihat rumputnya terbelah dua. Jika di wilayah Ngraji maka rumputnya mengarah ke Ngraji dan jika wilayah Kalongan, rumputnya menghadap ke Kalongan. Seperti membelah,” ujarnya.
Maka warga dari dua kampung tersebut di tempat pemakaman umum jadi satu lokasi di belakang SMP IT Integral Purwodadi.
Belakang sekolah tersebut ada makam digunakan dua kampung warga Dusun Tempel, Desa Ngraji, dan Lingkungan Bakalan, Kelurahan Kalongan.
Meski satu tempat ada batasan tempat pemakamanya.
Pemakaman warga Lingkungan Bakalan, Kelurahan Kalongan berada di sisi utara dan warga Dusun Tempel, Desa Ngraji berada di sebelah selatan.
”Warga di sini menamakan makam Oro-oro Jago yang artinya dulu tempat adu Jago. Hingga pemakaman orang meninggal dipisah tidak boleh lewat batas,” terang dia.
Sejarah adanya tempat makam oro-oro Jago juga ada peninggalan ayam jago yang jadi juara adu jago sampai sekarang diyakini masih hidup.
Pembuktian adanya ayam jago keberadaanya masih bersileweran di lingkungan sekitar makam dan di lingkungan Bakalan, Kalongan.
Sukoco yang juga peternak ayam jago Bangkok, sering melihat lewat di depan rumah.
Bahkan, ayam tersebut masuk ke pekarangan rumah dan naik ke atas kurungan ayam miliknya.
Saat itu, dirinya menangkapnya dan mengurungnya di dalam kamar agar tidak lari.
Tetapi setelah ditutup dengan kain berlapis-lapis dan disimpan di dalam kamar. Ayam tersebut hilang dan tidak ada di tempat.
”Dulu saya pernah jajal ayamnya. Bulu ayamnya warna warni dan ayamnya lebih kecil dari ayam jago Bangkok. Suara keluruknya bagus. Setelah saya tangkap saya kurung di dalam rumah hilang,” terang dia.
Mistis di lingkungan Bakalan juga adanya jalan luk Songo. Jalan dengan kelokan Sembilan ini dimulai dari jembatan Ganesha sampai ke Dusun Bakalan.
Jika dihitung ada Sembilan lekukan atau tikungan jalan. Tetapi sekarang tinggal delapan setelah dibangun jembatan sekarang.
Selain itu, mistis di lingkungan Bakalan juga banyak orang bersemedi atau nepi ingin mengambil barang gaib di lokasi sebelah jembatan.
Di lokasi tersebut ada sosok penampakan ular jika tengah malam lewat jalan tersebut. Kadang juga ada segerombolan anak-anak bermain.
”Warga yang lewat jembatan itu, ketika malam menyalakan klakson agar tidak diganggu. Karena beberapa kali ada orang lewat situ gak klakson terus di depanya tampak ada ular besar lewat terus direm dadak jatuh,” tambahnya.
Dari pengakuan warga yang jatuh di lokasi tersebut juga melihat ada anak-anak bermain berlarian di jalan.
Sehingga saat lewat kaget dan rem dadak terjatuh. Maka warga sekitar ketika mau melewati jembatan itu, lakukan klakson dulu. (mun/war)
Editor : Ali Mustofa