Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Potret PPDB SD Grobogan : 14 Sekolah hanya Dapat Kurang dari 10 Murid, Ini Rinciannya

Intan Maylani Sabrina • Senin, 15 Juli 2024 | 17:33 WIB
UPACARA: Siswa-siswi melakukan upacara di lingkungan sekolah baru-baru ini.
UPACARA: Siswa-siswi melakukan upacara di lingkungan sekolah baru-baru ini.

GROBOGAN — Dinas Pendidikan (Disdik) Grobogan terus mendapatkan laporan adanya sejumlah sekolah dasar (SD) yang minim mendapatkan siswa selama penerimaan peserta didik baru (PPDB).

Sampai saat ini, sudah ada empat kecamatan yang melapor.

Di antara penyebab minimnya siswa, karena jarak antarsekolah berdekatan.

Kabid Pembinaan SD Disdik Grobogan Muchamad Irfan mengungkapkan, sejumlah SD negeri di Kabupaten Grobogan minim mendapatkan siswa baru untuk tahun ajaran 2024/2025.

Hingga kini, empat kecamatan telah melapor jumlah siswa minim. Meliputi, Kecamatan Gubug, Tegowanu, Klambu, dan Wirosari.

”Dari empat kecamatan yang baru kirim data. Ada 14 sekolah yang mendapatkan siswa di bawah 10 anak,” ungkap Irfan.

Dari empat kecamatan itu, sekolah minim siswa terbanyak berada di Kecamatan Wirosari. Hingga 10 sekolah.

Antara lain, SDN 10 Wirosari yang hanya mendapat lima siswa, SDN 7 Wirosari delapan siswa, dan SDN 2 Kalirejo sembilan siswa.

Kemudian SDN 1 Sambirejo ada sembilan siswa, SDN 3 Sambirejo sembilan siswa, SDN 2 Tanjungrejo delapan siswa, SDN 1 Karangasem tiga siswa, SDN 4 Karangasem sembilan siswa, SDN Kecil Karangasem tiga siswa, dan SDN 6 Tegalrejo tujuh siswa.

Akibat minim siswa itu, pihak Disdik Grobogan tetap memperbolehkan sekolah menerima peserta didik baru meski PPDB sudah ditutup.

”Sampai saat ini masih bisa menerima, karena kadang ada yang daftar mepet waktu mau masuk sekolah. Jadi, tahu data pastinya nanti ya setelah sekolah masuk,” imbuhnya.

Dia menilai, banyaknya sekolah dasar yang kesulitan memenuhi kuota jumlah siswa disebabkan banyak faktor.

Ada yang orang tuanya lebih memilih memasukkan ke madrasah ibtidaiyah (MI). Hingga berhasilnya program keluarga berencana (KB).

”Kalau setiap tahun minim siswa, bisa kemungkinan akan direncanakan usulan regrouping. Tapi tentunya akan melalui proses yang cukup panjang,” ujarnya.

Mengatasi minimnya siswa tersebut, selama ini sejumlah SD negeri telah melakukan jemput bola untuk menarik perhatian kepada para orang tua calon siswa.

Namun, kendala lain jarak antarsekolah berdekatan. (int/lin)

Editor : Abdul Rokhim
#Di bawah 10 siswa #PPDB #PPDB SD #grobogan #kekurangan siswa #sd