GROBOGAN - Nama makam umum Banyuwono R Soponyono sudah tak asing lagi bagi warga Grobogan dan sekitarnya.
Berbagai cerita menyelimuti pemakaman yang berada di Jalan Taman Makam Pahlawan, Jetis Selatan, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Purwodadi tersebut.
Cerita yang beredar ialah suara gamelan yang terdengar di kompleks pemakaman.
Masyarakat sendiri mafhum, suara tersebut diduga ialah gamelan milik Ki Ageng Raden Soponyono yang dimakamkan di area tersebut.
Ki Soponyono disebut-sebut sebagai dalang kondang di masa Kasultanan Demak atau unda-undi dengan era Ki Ageng Selo.
Juru kunci setempat, Kasdi Pitoyo (63) mengatakan pernah beberapa kali mengalami kejadian ganjil. Ia meneruskan laku leluhurnya sebagai pemelihara makam.
"Saya sudah ada 13 tahun. Dulu bapak 42 tahun dan simbah saya 52 tahunan," ujarnya Sabtu (20/4).
Awalnya Kasdi menyampaikan pernah diberi tahu oleh bapaknya bahwa di area makam terdapat sosok macan putih.
Namun dia tak mau ambil pusing. Hingga melihat dan mengalaminya sendiri.
"Kalau bapak cerita pernah ditemani macan. Saya juga pernah diikuti, gak takut. Ya saya biarin kecuali kalau ganggu," ungkapnya.
Selain itu dia juga biasa melihat wujud manusia hingga pocongan.
Bahkan suara gamelan dan dalang sedang pentas.
"Bola bali (berkali-kali, Red). Pernah ada suara orang ndalang dengan iringan gending gamelan komplit. Bahasanya pun bahasa dalang, ada Jawa Kawinya juga, tapi tak parani (datangi, Red) tidak ada," tuturnya.
Kasdi juga pernah melihat cahaya yang memancar dari atas pohon di kompleks makam.
Pada saat itu, sorot cahaya tersebut begitu terang dan hanya diam.
"Sampai nisan-nisan itu kelihatan, padahal tengah malam," singkatnya.
Sebagai seorang juru kunci, Kasdi pun percaya akan adanya hal gaib.
Tapi pihaknya berpesan untuk tidak takut terhadap hal itu.
"Saya di sini hanya juru kunci. Kalau orang mau nguri-nguri, mengenang perjuangan leluhur silakan. Tapi jangan sampai menjurus kepada hal-hal yang berbau kemusyrikan," tandasnya.
Saat wartawan mencoba ke lokasi pemakaman pada Sabtu (14/4) pukul 21.30, di area tersebut diimpit oleh beberapa pohon besar.
Bahkan di kompleks cungkup makam Ki Soponyono terdapat pohon asem jawa yang berusia ratusan tahun. Tingginya mencapai 20 meter dengan diameter hampir dua meter.
Bangunan makam bercat putih itu menyatu dengan pohon tua tersebut.
Meski berada tak jauh di dari jalan raya, namun kondisinya sudah sepi.
Sorot lampu menerangi area depan atau gerbang masuk sebelah Barat. Akan tetapi di area tengah gelap dan singup.
"Dulu ada sepasang pohon asem yang juga besar di sini. Ya namanya orang kuno kan nisannya dengan pohon. Tapi sekarang sudah tidak ada, waktu itu dua-duanya ambruk pada hari yang sama," respon Hadi, (54),
Ia adalah warga setempat yang rumahnya berdempetan dengan makam saat wartawan datang malam hari.
Namun, wartawan tidak ditampakkan wujud seperti yang telah diceritakan sebelumnya oleh Kasdi.
"Ya kalau hal begituan itu orang-orangan (tergantung orangnya, Red), saya di sini juga biasa saja kok," celetuk Hadi usai wartawan menilik makam.
Setelah rampung dari makam, wartawan tidak langsung pulang.
Melainkan mampir ke salah satu kenalan di daerah Jetis Tanggul, yang berada di sebelah timur makam.
Dengan maksud untuk menghangatkan diri dengan secangkir wedang.
Wartawan mulai dibuat bingung saat Soes, sapaan akrabnya, selain mempersilakan wartawan masuk juga berkata, "Monggo mbah pinarak".
Wartawan tak menghiraukan dan mengira itu hanya sebagai candaan atau celetukan biasa.
Soes pun berkata kalau ke makam paling tidak membaca selawat.
Tak berselang lama, sekitar pukul 22.30, istri Soes mendadak memarahi wartawan.
"Nek ngeneki carane awakmu gugah aku," cetusnya.
Wartawan belum mafhum dengan kondisi tersebut, dan hanya mengira sebagai pesan biasa.
Tapi saat berbicara kian lantang baru wartawan sadar ternyata istri Soes sedang kerawuhan (kesurupan).
"Ora usah dolanan mistis. Nek wis Gusti Allah yo Gusti Allah. Sing Tawadhu. Mistas-mistis kanggo opo," tegasnya.
Wartawan terus dimarahi selama hampir lima menit.
Dari penyampaian dan pesan yang ada, kemarahan tersebut bukan serta sikap marah.
Karena saat wartawan mengatakan, "Nggih, mbah, ngapunten.." istri Soes kemudian menurunkan nada bicaranya dan seketika tersungkur.
Wartawan menyadari saat ke makam, lupa mengucap uluk salam dan kirim doa.
Akan tetapi asal jepret foto untuk keperluan foto jurnalistik.(fik)
Editor : Dzikrina Abdillah