GROBOGAN – Menjadi benda cagar budaya, Meriam Lela yang dipajang di Museum Lokal Grobogan dikaji oleh Tim Museum Jawa Tengah Ranggawarsita. Hasilnya, senjata tembak tersebut, memiliki tipe sundut yang diproduksi pada masa Kerajaan Mataram pada abad XVII.
Meriam itu, memiliki panjang keseluruhan 61 cm dengan diameter pangkal laras 15 cm dan diameter ujung laras 11 cm. Bahan meriam dari besi dengan metode penembakan disundut dengan diameter lubang 1,5 cm.
Pada bagian laras meriam terdapat empat ring dan di pangkal terdapat bulatan dan menonjol dengan diameter 5 cm. Meriam berada pada kereta yang memiliki delapan buah besi pengaman yang berada di luar permukaan badan meriam.
Kabid Kebudayaan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Grobogan Endang Darwati mengatakan, sebelumnya pihaknya mengusulkan dua koleksi Museum Lokal Grobogan menjadi objek kajian Tim Museum Jawa Tengah Ranggawarsita. Yakni Meriam Lela dan Gong Senen. Namun, baru Meriam Lela yang rampung dikaji.
”Pengkajianan Meriam Lela dimaksud karena minimnya informasi sejarah tentang koleksi tersebut. Setelah dikaji lebih lanjut, diharapkan informasi sejarah tentang meriam ini, dapat tersaji dengan lengkap,” harapnya.
Diketahui, Meriam Lela dulunya menjadi peninggalan bangsa Eropa yang sempat menguasai begitu luasanya wilayah di dunia. Termasuk Indonesia.
Dengan begitu, sejumlah meriam yang digunakan dalam medan pertempuran itu, kini berada di museum-museum. Salah satunya di Museum Lokal Grobogan ini.
”Awalnya timbul permasalahan tentang bentuk, bahan, serta masa pembuatannya. Setelah dilakukan kajian dan pengamatan lapangan, kami menemukan hasilnya,” ungkapnya.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, meriam tersebut termasuk tipe meriam sundut yang terbuat dari bahan besi dan berada di atas kereta meriam. Namun kereta itu merupakan buatan baru yang terbuat dari kayu serta kombinasi besi yang dilas dan dicat.
”Ada berbagai kendala dalam kajian merian ini. Salah satunya tidak ditemukan sedikit pun tulisan di badan meriam, sehingga tidak ada informasi yang bisa didapatkan dari tim lebih lanjut,” imbuhnya.
Dari hasil kajian, keberadaan koleksi meriam di Museum Lokal Grobogan diperkirakan diproduksi pada masa kerajaan Mataram (Jawa Islam) abad XVII.
”Adanya temuan ini membuktikan adanya kontak yang bukan hanya urusan niaga biasa, tetapi juga terjadi kontak politik tingkat tinggi,” jelasnya.
Sedangkan dari sudut pandang arkeolog dan sejarah, keberadaan meriam menjadi bukti kuat adanya reaksi defensif menghadapi musuh bersama kekuatan militer dan ekonomi Eropa yang dipraktikkan maskapai dagang Belanda, VOC.
”Hasilnya, Meriam Lela dimasukkan ke dalam kategori benda cagar budaya. Karena menjadi sumber informasi penting bagi kajian politik-ekonomi,” imbuhnya. (int/lin)
Editor : Ali Mustofa