GROBOGAN - Baru sehari dirawat di RSUD dr Soedjati Purwodadi, Sumarlan, 55, warga warga Dusun Pepe, Desa Ngrandu, Kecamatan Geyer berharap bisa segera pulih dan bisa kembali ke Jakarta. Hal itu disebabkan, anak semata wayangnya yang tengah bekerja di sana dan dirinya mengaku ingin menemaninya.
Di ruang Gladiol RSUD dr Soedjati, pria berbobot 200 kilogram ini tampak sumringah.
Sumarlan yang tengah memakai gaun berwarna hijau ini tak sungkan menceritakan keinginannya pasca sembuh nanti.
”Sebenarnya agak trauma dirawat di rumah sakit. Selama sakit ini memang sengaja meminta pulang kampung, kalau sakit di kampung kan tenang," katanya.
"Kalau di sana mau tenang gimana, tidur di bagian produksi berisik 24 jam. Meskipun posisinya saya di lantai dua, sedangkan produksi (ruang produksi konveksi, Red) ada lantai dasar,” lanjutnya.
Sebelum jatuh sakit, meski memiliki bertubuh besar ia masih beraktivitas seperti biasa. Di mana ia kerap naik turun tangga dari lantai dua ke lantai dasar untuk bekerja.
”Biasanya sebelum jatuh sakit, sehari bisa sampai lima kali naik turun dari lantai dua ke lantai satu,” kesannya.
Namun, selama sakit ia hanya bisa berbaring lemas di lantai dua. Aktivitas sehari-hari dibantu oleh anaknya.
Akibat kondisinya itulah, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke kampung halaman guna fokus penyembuhan.
”Sebenarnya malu, pulang kampung ingin senang. Ini malah sakit dan digotong. Malu dan sedih, datang ke rumah harusnya makan dan minum enak. Saudara malah nangis semua,” kata Sumarlan.
Baca Juga: Soal Kondisi Pria Obesitas asal Geyer Grobogan yang Dievakuasi ke RSUD Purwodadi, Begini Kata Dokter
Ingin Temani Sang Anak di Jakarta
Kendati begitu, ia juga curhat ingin kembali ke Jakarta setelah sembuh.
”Pasti, anak saya di sana. Masak saya di sini. Tapi kalau anak saya mau ke sini (Red, Kabupaten Grobogan), saya milih di kampung. Sudah tua, fisik sudah berkurang. Di kampung ada saudara yang nganterin makan,” ungkapnya.
Diketahui, anak semata wayangnya bernama Aldo, 24, sempat ikut pulang mengantarkan Sumarlan selama dua hari. Namun, kini telah kembali ke Jakarta untuk kembali bekerja sebagai accounting.
Aldo juga diketahui memiliki badan obesitas dengan bobot 216 kg. Namun, Aldo memiliki kondisi yang sehat sehingga masih beraktivitas normal.
Sebelumnya, Sumarlan sempat viral lantaran dievakuasi petugas damkar dari kamar kosnya di lantai dua ruko usaha konveksi Jalan Sukarjo Wiryopranoto, Gambir, Jakarta Pusat pada Kamis (29/6).
Kondisi pria yang tak lagi mampu berjalan itu akhirnya dipulangkan ke kampung halamannya pada Jumat (30/6).
Baca Juga: Rumah di Tanggunggharjo Grobogan Terbakar, Tiga Sepeda Motor Hangus, Begini Kronologinya
Ia merupakan pekerja konveksi yang sudah bekerja selama 20 tahun. Karena kondisi yang semakin menurun, lemas dan tidak sanggup bergerak. Maka ia meminta agar dipulangkan ke Desa Ngrandu.
Setelah sampai di kampung halamannya, ia diketahui mengalami obesitas tipe berat. Dengan berat badan kurang lebih 200 kilogram, lingkar perut didapat 272 cm, dan lingkar lengan atas (lila) 42 cm.
Tak hanya itu, ia juga memiliki riwayat penyakit penyerta hipertensi, diabetes mellitus (DM), gastritis serta memiliki riwayat genetik obesitas.
Kondisi serupa juga sempat dialami oleh sang istri yang juga memiliki riwayat obesitas.
Namun, sang istri kemudian meninggal dunia karena penyakit jantung.
Sementara, anaknya kini memiliki berat badan kurang lebih 200 kilogram sama seperti Sumarlan.
Karena memiliki beberapa penyakit penyerta tersebut, Sumarlan sempat dibujuk agar bisa dirujuk ke rumah sakit. Namun, dirinya dan pihak keluarga menolak.
Setelah dilakukan pendekatan, akhirnya Sumarlan berkenan. Petugas Puskesmas Geyer II, TNI dan warga setempat langsung mengevakuasi ke RSUD dr Soedjati menggunakan ambulans puskesmas. (int/khim)
Editor : Abdul Rokhim