Robohnya rumah kayu berukuran enam kali empat meter itu didahului hujan. Yang kemudian menimbulkan banjir di sungai belakang rumah. Banjir yang meninggi, lama-lama menggerus tanah. Sehingga bagian rumahnya ikut longsor.
"Waktu itu menjelang magrib. Beruntung anak-anak sudah di mushola buat bancaan. Saya masih di rumah sendiri," imbuhnya.
Saat itu ia mendengar suara "grek" yang menandai tiang rumahnya turun akibat tanahnya longsor. Dan diikuti rumah yang roboh. Beruntung ia langsung lari. Sehingga tak tertimpa.
Sejak kejadian itu, ia pun menginap di rumah tetangganya. Bersama lima anak dan sang istri. Seiring berjalannya waktu akhirnya ia dibantu warga sekitar. Mengumpulkan puing-puing bangunan rumah tersisa yang masih bisa digunakan.
"Pada gotong royong bantu mendirikan rumah. Tanahnya diprancoh pakai bambu biar bisa didirikan rumah lagi yang bagian longsor," katanya.
Karena bahan bangunan rumah terbatas, akhrinya diambilkan bambu-bambu. Serta dibantu beberapa kayu dari tetangga. Sehingga perlahan bisa ditinggali.
"Nginep di tetangga ya sampai dua Minggu mas. Anak sering nangis karenanya rumahnya gak bisa ditempati," paparnya. (tos) Editor : Ali Mustofa